Akuntansi: Art or Science

Wolk et al. di buku TA-nya (edisi 6) nulis satu bagian yang ngebahas apakah akuntansi itu art atau science. Benere sih repot juga yah… Soale aku nggak ngerti beda-nya science dan art selain yang diketahui umum which is not enough to start a discussion. (Hehehe.. terus apa maksudnya nulis post ini coba. 😛 )

Kemaren tuh pas lagi iseng bikin halaman quotes, aku baru tau bahwa “imagination is more important than knowledge” (Einstein) yang dulu quote favoritku itu ada kalimat depannya “I am enough of an artist to draw freely upon my imagination.” Keren yah… Einstein yang fisikawan abis.. mbahnya para scientist itu ngaku kalo dia an artist. Umm.. emang kelebihan para artist adalah kemampuan mereka untuk menciptakan hal2 di luar kotak (pemikiran umum). Bedanya apa dengan scientists kebanyakan? Well, mungkin (mungkin loh nih) kebanyakan scientists menjadi lebih hebat karena menemukan sesuatu yang lebih canggih, lebih hebat, lebih baik namun masih dalam kotak yang sama (bukan hal yang baru/berbeda).

Kalo diliat dari belahan otak, scientist (dan bahkan kebanyakan orang di dunia ini) emang umumnya bekerja dengan otak kiri. Bagian otak kiri mengandalkan logika dan orang yang otak kirinya bagus biasanya pintar dalam logika, matematika, dan bahasa. Sementara orang yang belahan otak kanannya bagus cenderung kreatif dan fleksibel. Daniel H. Pink (di bukunya “Misteri Otak Kanan”) bilang kalo selama ini kita dididik untuk “membaguskan” otak kiri kita. Hal ini yang menyebabkan kita sangat fanatik pada otak kiri. Saat ini level kecerdasan-otak-kiri masyarakat menjadi tinggi, ini plus kejenuhan dan canggihnya teknologi membuat orang-orang mencari hal2 baru. Nah ini kemudian membutuhkan cipratan kecerdasan otak kanan. Nggak percaya? Liat aja betapa sekarang desain menjadi faktor penting ketika orang2 membeli barang (mis: baju, mobil, dsb).

Balik ke akuntansi tadi, akuntansi tuh art or science? Mestinya sih lebih deket ke science lah wong akuntansi tuh otak kiri banget. Cuman ini apa ya masih bisa bertahan di masa depan? Akuntansi kan perepresentasian fenomena ekonomik, nah kalo fenomena ekonomiknya dipenuhi otak kanan (liat aja betapa banyaknya inovasi bisnis saat ini) apa bisa kita ngerepresentasiinnya pake otak kiri?

Jadi, akuntansi tuh art or science? Kalo an artistic advance science gimana? (Wakakakak.. ngarange poll).

Akuntansi tuh Mirip Bahasa Indonesia loh…

Apa serapan energy? Jadi energi kan. Serapan management? Jadi manajemen. Sebenernya huruf “g” dalam Bahasa Inggris tuh kalo diserap ke Bahasa Indonesia tetep huruf “g” atau jadi huruf “j”? Misalnya kata merger diserap jadi merger atau merjer? Bingung kan… (Hehehe.. Sukurin)

Coba di akuntansi yah. Perusahaan yang melakukan pembelian cicilan/kredit mencatatkan penambahan aset sebagai akibat transaksinya. Gimana dengan perusahaan yang melakukan leasing? Koq gak dicatet sebagai penambahan aset juga… Emang beda yah pembelian cicilan dan the so-called “lease” itu?

(Buat temen2 yang nggak di akuntansi: lease itu benere “topeng” untuk pembelian cicilan. Keuntungan “make” lease dibandingin pembelian cicilan adalah tidak adanya penambahan aset dalam lease sehingga itung2an kinerja seperti ROI, ROA, ROE bisa lebih bagus.)

Ketidaklogisan semacam ini banyak loh di akuntansi. SFAC misalnya…. dari dulu udah sering diributkan orang tentang ketidaklogisannya plus juga masalah circularity-nya. (Sampe sekarang masih dipake loh.. Hebat..)

Nah, dengan ketidaklogisan semacam itu kita disuruh bernalar runtut ketika belajar akuntansi? Woww…

(Aku lagi “nungguin” konsep akuntansi dengan pendekatan matematika yang diajukan Pak Sony nih [Dr. Sony Warsono, MAFIS]. Ada optimisme bahwa pendekatan matematika bisa memecahkan masalah ketidaklogisan di akuntansi nih. 😀 )

Feng-Shui & Akuntansi

Pernah baca penelitian value relevance? Itu tentang hubungan angka akuntansi ama nilai saham. Nah biasanya kalo hasilnya menunjukkan ada hubungan, ini terus dijadikan alasan bahwa akuntansi itu masih berguna buat pasar saham……. Umm, aku jadi inget cerita ini-dari  tulisannya Hermawan Kertajaya (karena udah lama dan lupa bacanya di mana, akhirnya aku tadi googling untuk ngelengkapi infonya):

Ceritanya tuh Hotel Hyatt buka cabang di Singapura. Hotel internasional ini pake desainer mereka plus standar jaringan mereka donk. Aku ngebayangin kalo mereka mengabaikan feng-shui. Kebetulannya, menurut feng-shui peruntungan (rejeki) mereka tuh jelek tapi mereka cuek aja (ya iya lah..). Nah pas dibuka, ternyata hotel itu beneran nggak laris… Akhirnya mereka pun manggil geomancer dan ngebenerin feng-shui-nya. Lah koq ndilalah abis itu larisnya amit-amit to… Hermawan Kertajaya terus ngasi pertanyaan reflektif yang menarik: itu emang feng-shui-nya yang berhasil atau sekadar menunjukkan the power of suggestion (the self-fulfilling prophecy) mengingat orang Singapura itu percaya banget sama feng-shui (waktu feng-shui-nya jelek mereka nggak mau masuk dan mengakibatkan occupancy rate-nya rendah, vice versa)?

Mirip nggak sih ama kasus angka akuntansi dan nilai saham itu? (Harus mirip 😛 ). Yah mungkin angka akuntansi itu emang berguna makanya dipake atau bisa juga investor sekadar percaya (nggak tau beneran berguna apa enggaknya) bahwa angka akuntansi itu berguna (perceived as useful) makanya mereka make dan oleh karenanya fulfilling the prophecy (bahwa akuntansi itu berguna).

Pertanyaannya sekarang: kalo angka akuntansi itu mempengaruhi nilai saham maka hal ini menunjukkan bahwa angka akuntansi memiliki usefulness atau perceived usefulness?