Andalan

The Bad Guy

Being a double-majority (Javanese, moslem), I never really cared about discrimination, SARA, and the likes. On an intellectual level, of course I knew that life is not fair. But hey, it’s not fair in favour of me. So what’s to complaint? What’s to care?

It’s not because of the lack of diversity in my life. Actually, I grew up a “minority” as a Javanese lived in Banjarmasin. So naturally, I have lots of friends whom ethnically different than me. Banjar, Dayak, Chinese, mainland Javanese, Batak, Padang, Ambon, Papua, you name it.

It’s not because of lack of experience either. When I was only 14 years old (May 1997), Banjarmasin was in riot because of a really unfortunate clash of politics and religious matters. I do choose the word unfortunate because unlike Ahok’s case, there’s actually nobody riding the wave nor intentionally cooking the brew.

You may have not heard it, but Banjarmasin riot was one of the biggest scandal of Orde Baru. All of the big shops in town was burnt and several government office plus churches were damaged. News count was about 140 people died, 120 injured, and 180 went missing. Of course, given the nature of news broadcast at the time, this number was really conservative and the true number could actually be bigger.

Heck, three days later I even saw 2 soldiers held the legendary AK-47 while guarded a church near my school. Tanks and Pansers suddenly seem to be sprouted everywhere in the city which thrives on trade. You do know that trade and show of force don’t go well hand in hand right? Yes, it was that bad. In fact, it was so bad that when the time came in 1998 to drag Presiden Suharto down his throne, nobody in Banjarmasin even lift a finger.

So, I know the ugly side of SARA. I’d seen it. Yet, it’s not until 2010 I understand how awful it is. Here the story goes.

I think every descent person ever has experienced the alay, douchey I-am-the-king-of-the-world kind of phase. No? Just me? Okay then. It manifested on many things, the most expensive being drinking overpriced coffee in a fancy, instagrammable cafe.

One day, a friend and I went into the so-called cafe that for mistery purpose shall remained nameless. It was pretty crowded that day and a foreigner about my age asked to share a table with us. After a small chit-chat courtesy of my friend, we knew that she’s from Norway and she did anthropology research in UGM. How interesting. What are you studying?

Ahmadiyah.
What?!!
Yup, I planned to go to Lombok in a couple weeks.
NOOOOO!!
Why?
It’s scary over there!! Was it really.. Ugh, I don’t know. Weren’t they like outlaws or something? They must be scary right?

That young lady only smiled, saying nothing. Yet her eyes suspiciously seem amused. “Why do you take this topic anyway?” I finally relented to my own curiousity.
“Well, it’s a serious violation of human rights.” she said with an air of extraordinary patience of someone who’s explaining obvious math to an obnoxious kid.

What?!!
Don’t you know?
No… I mean I know a bit. Uhm no, I don’t know. It’s not a big deal.
It’s a big deal in our country.
IT’S A BIG DEAL IN NORWAY?!!
Yes, your government let violence happens to minorities. It is a serious violation of human rights. Of course, it’s a big deal.

That night, I remembered all the authors and thinkers that I come to respect so much only after I’m smart enough to understand a bit complexities of the world. I realized what it must be looked like through their eyes.

I’m a textbook case of ignorance. So ignorant that I didn’t realize I was being ignorant.

I am the bad guy.

“The world is a dangerous place to live; not because of the people who are evil, but because of the people who don’t do anything about it.” – Albert Einstein

(Review) Free HBS Online Course

Awal April kemaren aku daftar free course-nya Harvard Business School (HBS) Online. Well, seperti yang kita harapkan dari kampus bisnis ternama dunia, semua hal bener-bener ditangani secara profesional dan keren. Waktu daftar, misalnya, kita nggak cuma sign up seperti biasanya tapi juga perlu ngecek Honor Code sama Community Code-nya. Namun jangan salah, ini sama sekali nggak ribet karena semua disajikan dengan simpel.

Tampilan Dashboard HBS Online

Trus abis itu, karena pendaftarnya membludak, HBS Online menunda pelaksanaan course-nya selama 2 minggu. Mereka ngebagi pendaftarnya ke kelas-kelas yang lebih kecil (5.000! 😱) biar semuanya bisa dapat pengalaman yang maksimal. Niat yah 😍

Pas masuk kelasnya lebih kagum lagi karena pengaturannya yang rapi sekaligus profesional. Sesuai reputasinya sebagai program bisnis berorientasi praktik ternama dunia, HBS Online juga memaksimalkan penggunaan tools teranyar kayak visualisasi data dan peta interaktif dalam praktiknya mengelola kelas online ini. Uhm, tapi aku gak bisa ngasi gambar ya.. Soalnya nggak tau sejauh apa aku boleh sharing kelasnya mereka.

Nah, yang lebih seru lagi tentu kelasnya itu sendiri, khususnya kasus yang dipake buat belajar! Wah keren banget lah kasusnya HBS ini. Kekinian, detail, unik, dan yang lebih penting lagi fundamental dan esensial. Jadi, kalo pake istilahnya orang akuntansi, substansinya dapet form-nya pun juga.

Kalo udah kelar kelas HBS Online ini, aku jadi pengen nyobain kelas-kelas online lainnya 😍

Kamu sendiri gimana? Seasik apa pengalamanmu dengan kelas online?

Komersialisasi Segala Hal

Hari ini aku membaca kolom Thomas Friedman di New York Times (May 12, 2012). Dia ngebahas bukunya Michael Sandel “What Money Can’t Buy: The Moral Limits of Markets.” Sandel sendiri cerita betapa saat ini nggak ada yang nggak bisa dijual oleh pasar. Pizza Hut masang logo di roketnya Rusia pada tahun 2020. Pete Rose, pemain baseball yang dikeluarkan seumur hidup karena berjudi, justru menjual memorabilia meminta maaf. Bahkan, sekolah publik di Amerika pun mulai menerima sumbangan sebagai ganti hak penamaan suatu ruang atau gedung.

(Eniwei, menurutku penamaan suatu ruang dengan nama bisnis itu cheesy deh. Aku dulu pernah kuliah di suatu program yang nama ruangannya “Ruang Satya Jaya”, “Ruang Niaga”, dan sebagainya yang merupakan nama perusahaan penyumbang ruangan tersebut. Enggak asik 😥)

Friedman kemudian melanjutkan telaah Sandel dengan mempertanyakan apakah masih ada tempat-tempat publik yang menjadi ruang bertemunya semua orang. Uhm, atau lebih spesifik apakah masih ada ruang publik yang bisa menjadi tempat bertemunya orang kaya dan orang miskin?

Ini menarik banget sih. Friedman bicara tentang tempat publik seperti mal, taman, dan sebagainya. Namun kita tau sendiri bahwa tempat publik seperti mal juga memiliki bermacam kelas. Di Surabaya, misalnya, kita bisa memilih ke mal mahal seperti Galaxy Mal atau TP 4. Namun, kalau mau pergi ke mal yang lebih murah, kita bisa pergi ke Royal. Rasanya semakin sedikit tempat yang tidak dibedakan berdasarkan kelas atau, dengan istilah yang lebih lugas, uang.

Nah, di salah satu tempat yang sedikit itu semestinya ada kampus (ie. pendidikan tinggi). Toh kampus merupakan tempat yang konon berdasarkan meritokrasi (ie. berdasarkan kemampuan), jadi semestinya siapa saja bisa masuk. Entah kaya ataupun miskin. Namun belakangan, khususnya di kampus-kampus besar dan ternama, tampak ada pergeseran “kelas” mahasiswa yang semakin lama semakin kaya. Tidak tanggung-tanggung, salah satu yang mengkritik adalah Jokowi yang merupakan alumni UGM. Ia menyebut bahwa sekarang UGM bukan kampus kerakyatan lagi. (Sumber: Merdeka 2013).

Di Amerika, hal ini diatasi dengan pemberian beasiswa besar-besaran sehingga masyarakat kurang mampu pun masih bisa bersekolah di kampus bagus. Harvard, misalnya, memberikan bantuan berbasis kebutuhan bagi 55% mahasiswanya (sumber: Abigail Jhess, CNBC 2019: “It costs $78,200 a year to go to Harvard–but here’s how much students actually pay”)

Bagaimana dengan di Indonesia? Khususnya di jurusan terpandang di kampus ternama? Menarik untuk dicermati sepertinya 😀

5 Channel YouTube yang Asik buat Belajar Ngembangin Diri: #1 Samuel Suresh

Seminggu kemaren kan aku sakit yang lumayan bikin nggak bisa mikir gitu. Alhasil, pas rada enakan ya cuman liat-liat YouTube aja. Udah lama banget sih nggak eksplor YouTube, atau bahkan eksplor apapun benernya.. I’m lost 🙈

Nah, setelah liat sana-sini, aku nemu 5 channel YouTube yang asik. Kenapa asik? Soalnya channel ini ngasi pengetahuan yang berguna dengan cara yang mudah dicerna plus asik pula. Okeh, mari kita lihat

Belajar caranya belajar bareng Samuel Suresh

Samuel Suresh

Pro: Filosofis, artsy, videonya bagus, berceritanya enak

Cons:

Yang pertama nih aku suka banget channel-nya Samuel Suresh. Video pertama yang aku tonton ya yang di atas itu, tentang gimana cara dia belajar. Emang gimana cara dia belajar?

Dengan bikin pertanyaan!

Jujur aja, aku tuh males belajar. Bosen gitu.. Abisnya kan kita gak ngapa-ngapain. Nah, dengan cara Samuel Suresh ini, kita belajarnya jadi aktif. Pas belajar (ie. baca buku teks, kuliah di kelas) kita jadi mikir ini maksudnya udah paham bener. Plus, bonusnya kalo pas bikin pertanyaan yang bagus banget gitu. Sueneeng 🥳

Kalo pas pertanyaannya basic gimana? Ya gakpapa, kita nggak mesti canggih melulu sih. Lagian, semakin basic pertanyaannya, semakin seru nanti bikin catetan jawabannya 😁

Oke, belajar dengan bikin pertanyaan sih mungkin seru ya.. tapi berguna nggak?

Iya dong. Ini nih katanya alm. Prof. Clayton Christensen

Prof. Clayton Christensen on questions

Gini, ketika kita belajar, entah formal atau informal, pengetahuan kita biasanya mencar-mencar. Nah, pertanyaan bikin kita ngehubungkan antara satu pengetahuan dan pengetahuan lainnya. Kalau istilahnya Samuel Suresh, yang kayaknya dia minjem dari Steve Jobs, connecting the dots. Kurang lebih gini lah gambarannya

Knowledge vs Experience/Questions

Yuuk kita cobain 🕵️‍♀️

PS: Ngomong-ngomong, waktu Dr. Dwi Martani (FEB UI) ke Unej dan ngasi pelatihan, beliau sempat bilang, “Ayo dong kasi saya pertanyaan yang sulit banget sampai nggak bisa jawabnya. Biar berkesan saya ke sininya”

Ya masalahnya kan bikin pertanyaan yang sulit banget alias canggih itu gak gampang yak.. tapi mungkin dengan metode Samuel Suresh ini kita bisa latihan 💪

Pemangku Kepentingan Laporan Keuangan

Siapa aja sih pemangku kepentingan dari laporan keuangan? Yuk kita lihat

  • Manager berkepentingan dengan laporan keuangan untuk memahami kondisi dan kinerja perusahaan secara umum untuk kemudian dikaitkan dengan bagiannya masing-masing. Hal ini juga penting untuk menjaga agar manager tetap memahami gambaran besar visi dan misi perusahaan serta progress untuk mewujudkan visi dan misi tersebut.
  • Pemegang saham memiliki bagian dari perusahaan. Oleh karenanya, tentu ia berharap bahwa perusahaan tersebut akan terus maju dan berkembang ke depannya. Salah satu cara untuk memperkirakan kemungkinan perkembangan perusahaan ke depan adalah melalui analisis data yang ada di laporan keuangan. Di sisi lain, untuk investor jangka pendek yang biasanya lebih peduli pada pergerakan harga saham, laporan keuangan juga penting karena angka laba bisa memiliki pengaruh pada harga saham pada saat pengumuman. Dengan demikian, penting bagi investor jangka pendek untuk melihat kesesuaian angka laba atau mungkin angka akuntansi lainnya dengan ekspektasi pasar sehingga ia dapat memperoleh keuntungan atau menghindarkan rugi.
  • Kreditur memerlukan laporan keuangan untuk memperkirakan kemampuan perusahaan membayar utangnya dengan memperkirakan kinerja ke depannya. Perusahaan yang memiliki kinerja baik dan pengelolaan aset yang baik akan memiliki peluang lebih baik pula untuk membayar utangnya dengan lancar. Analisis kredit merupakan salah satu hal penting yang dipelajari dalam analisis laporan keuangan.
  • Pemasok memerlukan laporan keuangan untuk memperkirakan potensi kerja sama ke depannya. Pemasok dan perusahaan bekerja sama agar perusahaan dapat menghasilkan produk dengan baik. Dengan demikian, sedikit banyak, pemasok memiliki ketergantungan pada perusahaan. Bila perusahaan berkembang dengan baik dan produksinya meningkat maka pasokan yang dibutuhkan juga akan meningkat, demikian pula sebaliknya. Bila perusahaan terkena dampak teknologi yang cukup signifikan dan perlu mengubah metode produksinya, pemasok mungkin juga akan terpengaruh. Oleh karenanya, pemasok perlu selalu update dengan kondisi dan kinerja perusahaan.
  • Karyawan rata-rata berharap dapat memiliki pekerjaan dalam jangka panjang. Oleh karena itu penting bagi karyawan untuk tahu prospek perusahaan ke depannya. Selain itu, pertumbuhan dan perkembangan perusahaan juga penting untuk negosiasi gaji, posisi, dan sebagainya.
  • Publik secara umum berkepentingan dengan laporan keuangan karena perusahaan-perusahaan tertentu bisa mempengaruhi hajat hidup orang banyak atau menggunakan fasilitas yang didanai oleh uang pajak. Selain itu, kondisi suatu perusahaan yang cukup besar biasanya juga dapat mempengaruhi sejumlah kepentingan publik. Bila kondisi perbankan tidak sehat, misalnya, maka ini akan mempengaruhi masyarakat yang menabung ataupun bertransaksi menggunakan bank tersebut. Hal ini bisa memunculkan kekhawatiran yang dapat meluas ke masyarakat umum yang bukan merupakan konsumen dari bank tersebut.

Photo by sl wong from Pexels

Kalo kamu sakit, apakah kamu akan izin atau tetap masuk kerja?

Di tengah rame tentang virus corona, kemaren muncul pemikiran “Bukannya seharusnya semua orang sakit itu mestinya nggak usah masuk kerja ya? Apalagi untuk sakit menular. Ini merupakan hal bertanggung jawab yang perlu dilakukan biar rekan kerja dan orang-orang sekitar nggak ikut ketularan sakitnya.”

Iya juga sih ya 🤔

Selama beberapa tahun ngajar, aku nggak pernah mewajibkan presensi di kelas. Terserah deh mau hadir atau enggak. Bukan karena pemikiran mulia self-quarantine seperti di atas. Melainkan berdasarkan pemikiran bahwa belajar yang efektif itu adalah yang sukarela. Selain itu, di sisi personal sih aku nggak terlalu suka dipaksa-paksa yah. Jadi terkadang mewajibkan sesuatu terasa berlawanan dengan apa yang aku sendiri pegang atau lakukan. Alhasil ya gitu deh

Dengan tidak mewajibkan presensi di kelas, aku berharap mahasiswa mengatur sendiri kehadirannya. Bahkan kalau dia nggak sakit atau ada kepentingan lain pun, aku masih membebaskan presensi. Pemikiranku, sekarang kan self-learning semakin gampang ya bisa belajar via buku teks, via YouTube, via pembahasan kasus di internet, dan sebagainya. Jadi kalau seorang mahasiswa sudah menguasai subjeknya, ya bebas aja mau hadir di kelas atau enggak. Toh subjeknya sudah dikuasai.

Namun, setelah melakukannya berulang-ulang, membebaskan mahasiswa mengatur sendiri kehadirannya, aku mendapati kenyataan menyebalkan bahwa sejumlah mahasiswa akan absen kalo diberi kesempatan. Bukan karena mereka sakit. Bukan karena ada kepentingan. Pun bukan pula karena menguasai subjeknya. Yang terakhir ini sungguh-sungguh menyebalkan. Trus apa gunanya nggak masuk kalo nggak tambah pinter?

Setelah kupikir-pikir, memang aturanku soal presensi ini sangat nggak umum dan melawan norma umum yang ada. Hampir semua kelas lain, bahkan kampus baru saja mengeluarkan edaran, menganggap bahwa presensi itu penting. Akhirnya apa? Tujuanku dalam konteks kecil (ie kelasku sendiri) kalah dengan norma umum yang dirasakan mahasiswa (ie kampus ataupun pendidikan formal umumnya). Mereka akhirnya tidak melihat kesempatan mengatur presensi sendiri ini sebagai latihan autonomi untuk memilih hal yang lebih efektif buat belajar (eg self-learning vs kelas), namun ya sebagai kesempatan tidak masuk (bolos) aja.

Hmmm… 👊

Alhasil semester ini pun aku sedikit-banyak mewajibkan kehadiran. Well, nggak bener-bener mewajibkan sih tapi siapapun yang nggak hadir hari itu, dengan alasan apapun, wajib “membantu” menjelaskan materi minggu depannya. Sungguh dorongan yang amat sangat efektif.

Nah, tapi baru minggu pertama, aku sudah sakit. Gejala tipus ringan. Masalahnya adalah sakit ini membawa demam dan ketika demam, aku sama sekali nggak bisa berpikir. Bahkan untuk mengganti jadwal saja aku enggan. Alhasil, minggu ke-2 perkuliahan ini akhirnya “libur”

Eniwei, seandainya joke ini sungguh tidak lucu. Aku menghabiskan waktu untuk membuat dan mengambil keputusan “sebaiknya hadir” yang bertentangan dengan kepercayaanku (ie. bahwa presensi seharusnya tidak wajib), bahkan sampai berdebat dengan atasanku segala. Eh baru seminggu mau dijalankan sudah kena batunya sendiri.

Tentu aku bisa dengan mudah nggak masuk karena aku dosennya. Namun ada beberapa masalah di sini.

Pertama, apakah itu fair? Dosen bisa seenaknya nggak masuk tapi kalau mahasiswa “harus” masuk di waktu yang telah ditentukan.

Kedua, salah satu “respon” dari mewajibkan presensi adalah kemudian ada mahasiswa yang cheating. (Psst, ini juga ada dalam edaran.) Terus terang, kalau aku pribadi lebih suka membiarkan mahasiswa tidak masuk daripada mereka berbohong atau berbuat curang.

Ketiga, yang paling penting, apakah bijak? Kalau mahasiswa itu sakit, ya memang sebaiknya dia istirahat di rumah. Biar cepat pulih dan bisa beraktivitas normal. Kalau dia sakit menular, istirahat di rumah jadi lebih penting agar tidak menulari teman-temannya.

Apakah hal itu mungkin dilakukan? Mungkin sih, di sejumlah negara maju atau lingkungan kerja-akademik yang mengadopsi pemikiran semacam itu. Di kita kayaknya enggak ya?

Saya meskipun beruntung memiliki autonomi untuk mengatur jadwal, tetap saja mendapat “sanksi” bila tidak masuk yaitu berkurangnya uang makan. Mahasiswa apalagi, mereka akan tercatat tidak hadir. Padahal persentase hadir atau enggak nantinya akan disertakan dalam file Excel yang digunakan dosen untuk menilai. Alhasil, secara umum, semua orang berusaha masuk meskipun sakit.

Kalau kamu sendiri bagaimana? Apakah izin atau tetap masuk bila sakit?

%d blogger menyukai ini: