(Review) Free HBS Online Course

Awal April kemaren aku daftar free course-nya Harvard Business School (HBS) Online. Well, seperti yang kita harapkan dari kampus bisnis ternama dunia, semua hal bener-bener ditangani secara profesional dan keren. Waktu daftar, misalnya, kita nggak cuma sign up seperti biasanya tapi juga perlu ngecek Honor Code sama Community Code-nya. Namun jangan salah, ini sama sekali nggak ribet karena semua disajikan dengan simpel.

Tampilan Dashboard HBS Online

Trus abis itu, karena pendaftarnya membludak, HBS Online menunda pelaksanaan course-nya selama 2 minggu. Mereka ngebagi pendaftarnya ke kelas-kelas yang lebih kecil (5.000! 😱) biar semuanya bisa dapat pengalaman yang maksimal. Niat yah 😍

Pas masuk kelasnya lebih kagum lagi karena pengaturannya yang rapi sekaligus profesional. Sesuai reputasinya sebagai program bisnis berorientasi praktik ternama dunia, HBS Online juga memaksimalkan penggunaan tools teranyar kayak visualisasi data dan peta interaktif dalam praktiknya mengelola kelas online ini. Uhm, tapi aku gak bisa ngasi gambar ya.. Soalnya nggak tau sejauh apa aku boleh sharing kelasnya mereka.

Nah, yang lebih seru lagi tentu kelasnya itu sendiri, khususnya kasus yang dipake buat belajar! Wah keren banget lah kasusnya HBS ini. Kekinian, detail, unik, dan yang lebih penting lagi fundamental dan esensial. Jadi, kalo pake istilahnya orang akuntansi, substansinya dapet form-nya pun juga.

Kalo udah kelar kelas HBS Online ini, aku jadi pengen nyobain kelas-kelas online lainnya 😍

Kamu sendiri gimana? Seasik apa pengalamanmu dengan kelas online?

Kalo kamu sakit, apakah kamu akan izin atau tetap masuk kerja?

Di tengah rame tentang virus corona, kemaren muncul pemikiran “Bukannya seharusnya semua orang sakit itu mestinya nggak usah masuk kerja ya? Apalagi untuk sakit menular. Ini merupakan hal bertanggung jawab yang perlu dilakukan biar rekan kerja dan orang-orang sekitar nggak ikut ketularan sakitnya.”

Iya juga sih ya 🤔

Selama beberapa tahun ngajar, aku nggak pernah mewajibkan presensi di kelas. Terserah deh mau hadir atau enggak. Bukan karena pemikiran mulia self-quarantine seperti di atas. Melainkan berdasarkan pemikiran bahwa belajar yang efektif itu adalah yang sukarela. Selain itu, di sisi personal sih aku nggak terlalu suka dipaksa-paksa yah. Jadi terkadang mewajibkan sesuatu terasa berlawanan dengan apa yang aku sendiri pegang atau lakukan. Alhasil ya gitu deh

Dengan tidak mewajibkan presensi di kelas, aku berharap mahasiswa mengatur sendiri kehadirannya. Bahkan kalau dia nggak sakit atau ada kepentingan lain pun, aku masih membebaskan presensi. Pemikiranku, sekarang kan self-learning semakin gampang ya bisa belajar via buku teks, via YouTube, via pembahasan kasus di internet, dan sebagainya. Jadi kalau seorang mahasiswa sudah menguasai subjeknya, ya bebas aja mau hadir di kelas atau enggak. Toh subjeknya sudah dikuasai.

Namun, setelah melakukannya berulang-ulang, membebaskan mahasiswa mengatur sendiri kehadirannya, aku mendapati kenyataan menyebalkan bahwa sejumlah mahasiswa akan absen kalo diberi kesempatan. Bukan karena mereka sakit. Bukan karena ada kepentingan. Pun bukan pula karena menguasai subjeknya. Yang terakhir ini sungguh-sungguh menyebalkan. Trus apa gunanya nggak masuk kalo nggak tambah pinter?

Setelah kupikir-pikir, memang aturanku soal presensi ini sangat nggak umum dan melawan norma umum yang ada. Hampir semua kelas lain, bahkan kampus baru saja mengeluarkan edaran, menganggap bahwa presensi itu penting. Akhirnya apa? Tujuanku dalam konteks kecil (ie kelasku sendiri) kalah dengan norma umum yang dirasakan mahasiswa (ie kampus ataupun pendidikan formal umumnya). Mereka akhirnya tidak melihat kesempatan mengatur presensi sendiri ini sebagai latihan autonomi untuk memilih hal yang lebih efektif buat belajar (eg self-learning vs kelas), namun ya sebagai kesempatan tidak masuk (bolos) aja.

Hmmm… 👊

Alhasil semester ini pun aku sedikit-banyak mewajibkan kehadiran. Well, nggak bener-bener mewajibkan sih tapi siapapun yang nggak hadir hari itu, dengan alasan apapun, wajib “membantu” menjelaskan materi minggu depannya. Sungguh dorongan yang amat sangat efektif.

Nah, tapi baru minggu pertama, aku sudah sakit. Gejala tipus ringan. Masalahnya adalah sakit ini membawa demam dan ketika demam, aku sama sekali nggak bisa berpikir. Bahkan untuk mengganti jadwal saja aku enggan. Alhasil, minggu ke-2 perkuliahan ini akhirnya “libur”

Eniwei, seandainya joke ini sungguh tidak lucu. Aku menghabiskan waktu untuk membuat dan mengambil keputusan “sebaiknya hadir” yang bertentangan dengan kepercayaanku (ie. bahwa presensi seharusnya tidak wajib), bahkan sampai berdebat dengan atasanku segala. Eh baru seminggu mau dijalankan sudah kena batunya sendiri.

Tentu aku bisa dengan mudah nggak masuk karena aku dosennya. Namun ada beberapa masalah di sini.

Pertama, apakah itu fair? Dosen bisa seenaknya nggak masuk tapi kalau mahasiswa “harus” masuk di waktu yang telah ditentukan.

Kedua, salah satu “respon” dari mewajibkan presensi adalah kemudian ada mahasiswa yang cheating. (Psst, ini juga ada dalam edaran.) Terus terang, kalau aku pribadi lebih suka membiarkan mahasiswa tidak masuk daripada mereka berbohong atau berbuat curang.

Ketiga, yang paling penting, apakah bijak? Kalau mahasiswa itu sakit, ya memang sebaiknya dia istirahat di rumah. Biar cepat pulih dan bisa beraktivitas normal. Kalau dia sakit menular, istirahat di rumah jadi lebih penting agar tidak menulari teman-temannya.

Apakah hal itu mungkin dilakukan? Mungkin sih, di sejumlah negara maju atau lingkungan kerja-akademik yang mengadopsi pemikiran semacam itu. Di kita kayaknya enggak ya?

Saya meskipun beruntung memiliki autonomi untuk mengatur jadwal, tetap saja mendapat “sanksi” bila tidak masuk yaitu berkurangnya uang makan. Mahasiswa apalagi, mereka akan tercatat tidak hadir. Padahal persentase hadir atau enggak nantinya akan disertakan dalam file Excel yang digunakan dosen untuk menilai. Alhasil, secara umum, semua orang berusaha masuk meskipun sakit.

Kalau kamu sendiri bagaimana? Apakah izin atau tetap masuk bila sakit?

Risiko Terbesar menjadi Dosen

hyp·o·crite

noun \ˈhi-pə-ˌkrit\

: a person who claims or pretends to have certain beliefs about what is right but who behaves in a way that disagrees with those beliefs

Full Definition of HYPOCRITE

1:  a person who puts on a false appearance of virtue or religion
2:  a person who acts in contradiction to his or her stated beliefs or feelings
(Sumber: Merriam-Webster Online Dictionary)

Awal Februari ini untuk pertama kalinya aku sepenuhnya senang dan bersemangat sekali karena bakal Slide Ngajarmengajar. Jangan salah, aku cukup akrab dengan dunia pendidikan, pernah mengajar, dan sudah sering didorong menjadi dosen jadi sudah lumayan sering memikirkan profesi ini. Masalahnya tetap ada saja ada beberapa kekhawatiran besar soal mengajar dan menjadi dosen ini. Namun kali ini enggak, kali ini aku sudah menemukan cara untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Aku jenius!

Sebentar dulu, memangnya apa sih masalah-masalah terkait mengajar dan menjadi dosen? Buatku ada 3 masalah besar dalam mengajar dan menjadi dosen. Pertama, ancaman bosan. Gimana enggak, mengajar itu berarti anda menguasai suatu bahan dan kemudian meneruskan bahan tersebut ke sejumlah mahasiswa. Ibarat penyanyi yang menciptakan suatu lagu dan kemudian harus tampil di berbagai panggung membawakan lagu tersebut. Bosan.

Kedua, ancaman cuma pasif jadi penonton dan juri. Aku tipikal orang yang lebih suka melakukan sesuatu. Sementara jelas kalau mengajar, mahasiswa lah pemeran utamanya. Mahasiswa lah yang mempelajari bahan, melakukan analisis, dan menghadapi ujian. Dosen cuma menonton dan, di saat-saat tertentu, menjadi juri atas karya-karya mahasiswa tersebut.

Ketiga, ancaman jadi diktator. Selama ini aku relatif persuasif dalam berpendapat ataupun menjual ide/pemikiran. Ya mau gimana lagi, ha wong yang kuhadapi adalah profesor yang keren-keren banget. Aku cukup tau diri lah untuk kemudian belajar berargumentasi dan menyampaikannya secara baik pada mereka. (Itu aja bandel btw.) Ini berbeda dengan kelas di mana aku yang berkuasa. Mahasiswa umumnya lebih muda 10 – 12 tahun daripada aku, dengan tingkat pendidikan dan pengalaman yang (kayaknya sih) jauh di bawahku. Belum lagi kekuasaan dosen yang begitu besar dalam menentukan nilai maupun memberi tugas pada mahasiswa. Mahasiswa nggak mau nurut apa kataku? Kasih aja tugas yang berat. Aku melihat diriku dengan mudah tergelincir ke arah ini.

Bosan, pasif, diktator. Ketiga hal itu masalah-masalahku. Namun kali ini berbeda. Kali ini rasanya aku berhasil menyusun model kelas yang relatif tidak membuatku bosan, tidak membuatku cuma jadi penonton dan juri, dan (semoga sih) juga tidak jadi diktator.

Alhasil aku jadi sungguh bersemangat! Mulailah aku menyusun presentasi untuk mengajar pertemuan pertama, 10 Februari lalu. Di dalam presentasi kuselipkan cerita mengenai pemilihan model mengajarku beserta alasannya plus hal-hal ideal yang mendasari pemilihan model tersebut. Ada beberapa hal ideal yang kusampaikan, antara lain soal menjadi kreatif, flow, dan menghasilkan karya yang bagus. Asumsi dasar dalam projekku ini tentu saja adalah berani mengambil risiko dan bekerja keras, hanya dengan keduanya orang bisa belajar menjadi kreatif.

Eh tapi tunggu dulu, memangnya aku sudah menerapkan semua hal itu?

Lanjutkan membaca “Risiko Terbesar menjadi Dosen”

Budaya ‘Outstanding’

Tantangan utama pendidikan ada di memampukan murid untuk belajar secara mandiri.  macanIlmu pengetahuan akan terus terperbaharui (updated) atau berubah, namun selama orang bisa belajar secara mandiri maka nggak akan ada masalah.

Sifat belajar secara mandiri itu sukarela, mesti ada keinginan dari pihak si murid untuk mempelajari sesuatu. Bagaimana menumbuhkan keinginan itu? Satu-satunya yang terpikirkan adalah dengan membuat murid merasakan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Ini kemudian yang jadi tantangan besar. Sebab pengalaman menyenangkan hanya akan timbul di saat kita mengerjakan secara serius dan mendalam suatu tugas/kerjaan yang cukup kompleks. Kenapa jadi tantangan besar? Sebab budaya kita umumnya adalah mengerjakan sesuatu apa adanya, yang penting cukup/memadai. Jarang sekali ada tempat/budaya yang benar-benar mendorong kita untuk “ayo kamu kerjakan tugas/hal ini dengan luar biasa (outstanding)” atau “ayo bikin karya yang sebagus mungkin”.

Ada juga kita disuruh bikin sebagus mungkin sesuai standar tertentu, contoh gampangnya UN. Itu bukan sebagus mungkin juga namanya, sebab yang umumnya terjadi adalah kita berusaha memenuhi standar-standar itu saja tanpa memikirkan peluang lain di luar standar. Itu sih masih jalan aman. Kadang ada sih tempat yang bilang ‘outstanding’ sebagai budaya/value-nya, namun kalau gagal murid diberi sanksi. Ya itu sama saja boong, sebab usaha menghasilkan karya yang benar-benar bagus selalu berisiko gagal.

Lanjutkan membaca “Budaya ‘Outstanding’”