Kalo kamu sakit, apakah kamu akan izin atau tetap masuk kerja?

Di tengah rame tentang virus corona, kemaren muncul pemikiran “Bukannya seharusnya semua orang sakit itu mestinya nggak usah masuk kerja ya? Apalagi untuk sakit menular. Ini merupakan hal bertanggung jawab yang perlu dilakukan biar rekan kerja dan orang-orang sekitar nggak ikut ketularan sakitnya.”

Iya juga sih ya πŸ€”

Selama beberapa tahun ngajar, aku nggak pernah mewajibkan presensi di kelas. Terserah deh mau hadir atau enggak. Bukan karena pemikiran mulia self-quarantine seperti di atas. Melainkan berdasarkan pemikiran bahwa belajar yang efektif itu adalah yang sukarela. Selain itu, di sisi personal sih aku nggak terlalu suka dipaksa-paksa yah. Jadi terkadang mewajibkan sesuatu terasa berlawanan dengan apa yang aku sendiri pegang atau lakukan. Alhasil ya gitu deh

Dengan tidak mewajibkan presensi di kelas, aku berharap mahasiswa mengatur sendiri kehadirannya. Bahkan kalau dia nggak sakit atau ada kepentingan lain pun, aku masih membebaskan presensi. Pemikiranku, sekarang kan self-learning semakin gampang ya bisa belajar via buku teks, via YouTube, via pembahasan kasus di internet, dan sebagainya. Jadi kalau seorang mahasiswa sudah menguasai subjeknya, ya bebas aja mau hadir di kelas atau enggak. Toh subjeknya sudah dikuasai.

Namun, setelah melakukannya berulang-ulang, membebaskan mahasiswa mengatur sendiri kehadirannya, aku mendapati kenyataan menyebalkan bahwa sejumlah mahasiswa akan absen kalo diberi kesempatan. Bukan karena mereka sakit. Bukan karena ada kepentingan. Pun bukan pula karena menguasai subjeknya. Yang terakhir ini sungguh-sungguh menyebalkan. Trus apa gunanya nggak masuk kalo nggak tambah pinter?

Setelah kupikir-pikir, memang aturanku soal presensi ini sangat nggak umum dan melawan norma umum yang ada. Hampir semua kelas lain, bahkan kampus baru saja mengeluarkan edaran, menganggap bahwa presensi itu penting. Akhirnya apa? Tujuanku dalam konteks kecil (ie kelasku sendiri) kalah dengan norma umum yang dirasakan mahasiswa (ie kampus ataupun pendidikan formal umumnya). Mereka akhirnya tidak melihat kesempatan mengatur presensi sendiri ini sebagai latihan autonomi untuk memilih hal yang lebih efektif buat belajar (eg self-learning vs kelas), namun ya sebagai kesempatan tidak masuk (bolos) aja.

Hmmm… πŸ‘Š

Alhasil semester ini pun aku sedikit-banyak mewajibkan kehadiran. Well, nggak bener-bener mewajibkan sih tapi siapapun yang nggak hadir hari itu, dengan alasan apapun, wajib “membantu” menjelaskan materi minggu depannya. Sungguh dorongan yang amat sangat efektif.

Nah, tapi baru minggu pertama, aku sudah sakit. Gejala tipus ringan. Masalahnya adalah sakit ini membawa demam dan ketika demam, aku sama sekali nggak bisa berpikir. Bahkan untuk mengganti jadwal saja aku enggan. Alhasil, minggu ke-2 perkuliahan ini akhirnya “libur”

Eniwei, seandainya joke ini sungguh tidak lucu. Aku menghabiskan waktu untuk membuat dan mengambil keputusan “sebaiknya hadir” yang bertentangan dengan kepercayaanku (ie. bahwa presensi seharusnya tidak wajib), bahkan sampai berdebat dengan atasanku segala. Eh baru seminggu mau dijalankan sudah kena batunya sendiri.

Tentu aku bisa dengan mudah nggak masuk karena aku dosennya. Namun ada beberapa masalah di sini.

Pertama, apakah itu fair? Dosen bisa seenaknya nggak masuk tapi kalau mahasiswa “harus” masuk di waktu yang telah ditentukan.

Kedua, salah satu “respon” dari mewajibkan presensi adalah kemudian ada mahasiswa yang cheating. (Psst, ini juga ada dalam edaran.) Terus terang, kalau aku pribadi lebih suka membiarkan mahasiswa tidak masuk daripada mereka berbohong atau berbuat curang.

Ketiga, yang paling penting, apakah bijak? Kalau mahasiswa itu sakit, ya memang sebaiknya dia istirahat di rumah. Biar cepat pulih dan bisa beraktivitas normal. Kalau dia sakit menular, istirahat di rumah jadi lebih penting agar tidak menulari teman-temannya.

Apakah hal itu mungkin dilakukan? Mungkin sih, di sejumlah negara maju atau lingkungan kerja-akademik yang mengadopsi pemikiran semacam itu. Di kita kayaknya enggak ya?

Saya meskipun beruntung memiliki autonomi untuk mengatur jadwal, tetap saja mendapat “sanksi” bila tidak masuk yaitu berkurangnya uang makan. Mahasiswa apalagi, mereka akan tercatat tidak hadir. Padahal persentase hadir atau enggak nantinya akan disertakan dalam file Excel yang digunakan dosen untuk menilai. Alhasil, secara umum, semua orang berusaha masuk meskipun sakit.

Kalau kamu sendiri bagaimana? Apakah izin atau tetap masuk bila sakit?

Diterbitkan oleh arierahayu

Writes pop material on accounting

Bagaimana menurut anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: