Komersialisasi Segala Hal

Hari ini aku membaca kolom Thomas Friedman di New York Times (May 12, 2012). Dia ngebahas bukunya Michael Sandel “What Money Can’t Buy: The Moral Limits of Markets.” Sandel sendiri cerita betapa saat ini nggak ada yang nggak bisa dijual oleh pasar. Pizza Hut masang logo di roketnya Rusia pada tahun 2020. Pete Rose, pemain baseball yang dikeluarkan seumur hidup karena berjudi, justru menjual memorabilia meminta maaf. Bahkan, sekolah publik di Amerika pun mulai menerima sumbangan sebagai ganti hak penamaan suatu ruang atau gedung.

(Eniwei, menurutku penamaan suatu ruang dengan nama bisnis itu cheesy deh. Aku dulu pernah kuliah di suatu program yang nama ruangannya “Ruang Satya Jaya”, “Ruang Niaga”, dan sebagainya yang merupakan nama perusahaan penyumbang ruangan tersebut. Enggak asik 😥)

Friedman kemudian melanjutkan telaah Sandel dengan mempertanyakan apakah masih ada tempat-tempat publik yang menjadi ruang bertemunya semua orang. Uhm, atau lebih spesifik apakah masih ada ruang publik yang bisa menjadi tempat bertemunya orang kaya dan orang miskin?

Ini menarik banget sih. Friedman bicara tentang tempat publik seperti mal, taman, dan sebagainya. Namun kita tau sendiri bahwa tempat publik seperti mal juga memiliki bermacam kelas. Di Surabaya, misalnya, kita bisa memilih ke mal mahal seperti Galaxy Mal atau TP 4. Namun, kalau mau pergi ke mal yang lebih murah, kita bisa pergi ke Royal. Rasanya semakin sedikit tempat yang tidak dibedakan berdasarkan kelas atau, dengan istilah yang lebih lugas, uang.

Nah, di salah satu tempat yang sedikit itu semestinya ada kampus (ie. pendidikan tinggi). Toh kampus merupakan tempat yang konon berdasarkan meritokrasi (ie. berdasarkan kemampuan), jadi semestinya siapa saja bisa masuk. Entah kaya ataupun miskin. Namun belakangan, khususnya di kampus-kampus besar dan ternama, tampak ada pergeseran “kelas” mahasiswa yang semakin lama semakin kaya. Tidak tanggung-tanggung, salah satu yang mengkritik adalah Jokowi yang merupakan alumni UGM. Ia menyebut bahwa sekarang UGM bukan kampus kerakyatan lagi. (Sumber: Merdeka 2013).

Di Amerika, hal ini diatasi dengan pemberian beasiswa besar-besaran sehingga masyarakat kurang mampu pun masih bisa bersekolah di kampus bagus. Harvard, misalnya, memberikan bantuan berbasis kebutuhan bagi 55% mahasiswanya (sumber: Abigail Jhess, CNBC 2019: “It costs $78,200 a year to go to Harvard–but here’s how much students actually pay”)

Bagaimana dengan di Indonesia? Khususnya di jurusan terpandang di kampus ternama? Menarik untuk dicermati sepertinya 😀

The Bad Guy

Being a double-majority (Javanese, moslem), I never really cared about discrimination, SARA, and the likes. On an intellectual level, of course I knew that life is not fair. But hey, it’s not fair in favour of me. So what’s to complaint? What’s to care?

It’s not because of the lack of diversity in my life. Actually, I grew up a “minority” as a Javanese lived in Banjarmasin. So naturally, I have lots of friends whom ethnically different than me. Banjar, Dayak, Chinese, mainland Javanese, Batak, Padang, Ambon, Papua, you name it.

It’s not because of lack of experience either. When I was only 14 years old (May 1997), Banjarmasin was in riot because of a really unfortunate clash of politics and religious matters. I do choose the word unfortunate because unlike Ahok’s case, there’s actually nobody riding the wave nor intentionally cooking the brew.

You may have not heard it, but Banjarmasin riot was one of the biggest scandal of Orde Baru. All of the big shops in town was burnt and several government office plus churches were damaged. News count was about 140 people died, 120 injured, and 180 went missing. Of course, given the nature of news broadcast at the time, this number was really conservative and the true number could actually be bigger.

Heck, three days later I even saw 2 soldiers held the legendary AK-47 while guarded a church near my school. Tanks and Pansers suddenly seem to be sprouted everywhere in the city which thrives on trade. You do know that trade and show of force don’t go well hand in hand right? Yes, it was that bad. In fact, it was so bad that when the time came in 1998 to drag Presiden Suharto down his throne, nobody in Banjarmasin even lift a finger.

So, I know the ugly side of SARA. I’d seen it. Yet, it’s not until 2010 I understand how awful it is. Here the story goes.

I think every descent person ever has experienced the alay, douchey I-am-the-king-of-the-world kind of phase. No? Just me? Okay then. It manifested on many things, the most expensive being drinking overpriced coffee in a fancy, instagrammable cafe.

One day, a friend and I went into the so-called cafe that for mistery purpose shall remained nameless. It was pretty crowded that day and a foreigner about my age asked to share a table with us. After a small chit-chat courtesy of my friend, we knew that she’s from Norway and she did anthropology research in UGM. How interesting. What are you studying?

Ahmadiyah.
What?!!
Yup, I planned to go to Lombok in a couple weeks.
NOOOOO!!
Why?
It’s scary over there!! Was it really.. Ugh, I don’t know. Weren’t they like outlaws or something? They must be scary right?

That young lady only smiled, saying nothing. Yet her eyes suspiciously seem amused. “Why do you take this topic anyway?” I finally relented to my own curiousity.
“Well, it’s a serious violation of human rights.” she said with an air of extraordinary patience of someone who’s explaining obvious math to an obnoxious kid.

What?!!
Don’t you know?
No… I mean I know a bit. Uhm no, I don’t know. It’s not a big deal.
It’s a big deal in our country.
IT’S A BIG DEAL IN NORWAY?!!
Yes, your government let violence happens to minorities. It is a serious violation of human rights. Of course, it’s a big deal.

That night, I remembered all the authors and thinkers that I come to respect so much only after I’m smart enough to understand a bit complexities of the world. I realized what it must be looked like through their eyes.

I’m a textbook case of ignorance. So ignorant that I didn’t realize I was being ignorant.

I am the bad guy.

“The world is a dangerous place to live; not because of the people who are evil, but because of the people who don’t do anything about it.” – Albert Einstein

Teori Evolusi vs Agama: Bukan soal Monyet

Setelah lama belajar biologi, baru di umur 32 tahun ini aku tau apa itu teori evolusi. Selama ini aku taunya teori evolusi itu cerita soal perubahan makhluk secara perlahan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Keliru. 😥

Teori evolusi itu bercerita bahwa variasi makhluk terjadi secara random (acak), karena kebetulan semata. Variasi ini wajar terjadi sebab hal random/acak bisa terjadi setiap saat. Misalnya nih, bapak – ibunya biasa aja, eh anaknya supercakep. Random kan? *ditimpuk*

Oke, lalu bagaimana mungkin makhluk hidup yang ada sekarang itu ya seperti yang ada sekarang? Kenapa jerapah lehernya panjang? Nah, jadi inget istilah di kelas biologi dulu yah? Natural selection, seleksi alamiah. Berhubung susah dapat makan, jerapah berleher pendek jadi cepat mati. Alhasil, yang tersisa pun tinggal jerapah-jerapah berleher panjang. Eh tapi jangan salah, kadang-kadang peristiwa random terjadi lagi dan jerapah-jerapah berleher panjang bisa saja menghasilkan jerapah berleher pendek. Apa yang kemudian terjadi? Tetep aja, dia bakal susah dapat makan dan mati duluan. Natural selection. Contoh

Sekarang ini jerapah-jerapah berleher panjang bukan karena mereka menyesuaikan diri, namun karena kalau ada yang berleher pendek pun umurnya tak panjang. Hewan sebagai orang tua malah kejam juga. Kalau kebetulan mereka punya anak yang lemah atau cacat, biasanya orang tuanya nggak mau ngurus sehingga nanti mati terlantar. Ya mungkin karena mereka bisa merasakan bahwa anak itu tidak akan bertahan di alam liar.

Oke, biar terkesan asik, aku kasi contoh yang asik-tapi-logikanya-agak-nggak-mirip: es krim. Iya, es krim. Coba kamu pergi ke supermarket yang ada ekosistem Walls di sana. Perhatikan apa saja isinya. Kadang ada yang sangat random sehingga kita berpikir ini penemunya baik-baik aja ya waktu bikin? Misalnya nih es krim rasa pisang Lion King. *ada koq beneran* *tahun 2000-an* *tua aku* Es krim itu kayaknya sih nggak laris. Trus kenapa sekarang nggak ada? Apakah dia berevolusi jadi Magnum Blackforest demi melariskan diri? Ya enggak lah, berhubung alam tidak menginginkannya maka si ekosistem Walls berhenti memproduksi jenis itu. Masuk akal banget ya? Teori evolusi ini memang begitu solid. Teori evolusi disebut teori bukan dalam artian umum atau biasanya yang berarti argumen, melainkan yang berarti prinsip atau hukum alam. Neil deGrasse Tyson menyebut teori evolusi ini sesolid teori gravitasi, kenyataan yang tak bisa dibantah. (Bersambung ke halaman berikutnya.)

Live. Die. Repeat

Bagaimana kalau ternyata kita juga melakukannya? Dalam konteks psikologis, bukan fisik? Hidup, mati, dan mengulanginya kembali?

Kemaren aku baru nonton Edge of Tomorrow, filmnya Tom Cruise dan Emily Blunt. Seru! Emily Blunt terutama keren banget jadi Rita Vrataski, bener-bener badass. Di sini karakternya Tom Cruise terjebak dalam lingkaran waktu (time loop), di mana setiap kali mati maka dia akan hidup lagi, balik ke hari dia gabung dengan J-Squad. Gampangnya sih kayak main game yang kalau game over maka kita balik ke level tertentu, level 5 misalnya, trus mulai awal lagi dari situ. Konsekuensi mengulangi waktu terus-menerus seperti itu ya maka dia makin canggih, makin menguasai kondisi, dan makin punya peluang menang. Ya kan?

Nah, zaman masih muda dulu *ehem,* aku jadi tau bahwa ada orang-orang yang sering terjebak pada hubungan yang tidak baik, bisa hubungan romantis ataupun nonromantis. Yang menarik, hubungan ini justru setipe dengan hubungan yang tidak ia sukai ketika kecil (i.e. trauma masa kecil). Misalnya, seorang anak perempuan yang punya dan membenci ayahnya yang pemabuk, kemudian justru menikahi seorang pemabuk juga, dan akhirnya memiliki masalah yang sama dengan yang dihadapinya ketika kecil.

Ini menarik. Kenapa orang mau mengulangi penderitaannya lagi? Anak perempuan tadi, misalnya, tentu sudah tau bagaimana buruknya karakter/sikap seorang pemabuk, kenapa dia malah menikah dengan seorang pemabuk? Jauhi dong. Ya kan?

Ya itu sih kalau akal sehat yang berbicara. Namun, disadari atau enggak, diakui atau enggak, kita banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor emosional dan psikologis. Balik ke Edge of Tomorrow tadi, aku jadi terpikirkan, mungkin sebenarnya kondisi psikologis orang-orang yang mengalami trauma masa kecil itu hampir seperti orang yang mengalami time-loop. Secara tidak sadar, mereka berusaha kembali ke masa kecilnya dan ingin mengubah outcome-nya. Anak perempuan yang menderita karena punya ayah pemabuk itu, mungkin secara tidak sadar mencari pasangan hidup yang pemabuk juga karena kali ini dia ingin berhasil mengatasi masalahnya (dengan seorang pemabuk) dan tidak lagi menderita.

Yang ironis, seperti di Edge of Tomorrow, pengulangan itu mungkin membuat kita melangkah lebih jauh, kita jadi lebih pintar dan menguasai kondisi, namun pada akhirnya hasilnya tidak akan berubah. Sepertinya ada yang magis dalam menjalani hidup dengan menyadari penuh bahwa kesempatan itu hanya sekali.

Tanda Tangan

Ceritanya, tidak beberapa lama yang lalu, aku berada dalam suatu kondisi yang membuatku introspeksi diri, tepatnya introspeksi tanda tanganku. Iya tanda tangan, coretan yang kita buat untuk identitas diri itu lho. Apa introspeksiku? Jadi kupikir-pikir kan, meskipun dibuat waktu culun masih SMA, untung tanda tanganku ini bagus lho.*lho ini introspeksi atau narsis*

Eh, emang kenapa kalau jelek? Kan gakpapa juga jelek, toh bikinnya aja pas waktu buat KTP pertama alias ultah ke-17. Muda banget kan itu? Kalau jadinya jelek ya mesti dimaklumi dong?

IMG-20140413-00862
tanda tangan

Iya sih maklum soal kenapa jeleknya. Namun, kalau kita liat dari sisi pragmatis, yang menjadi masalah dengan tanda tangan ini adalah betapa sulitnya mengganti ke yang baru. Bayangin aja, sekarang kalau mau ganti tanda tangan itu perlu ganti KTP, SIM, buku tabungan, ijasah, dan lain sebagainya yang aku nggak tau. Repot kan? Alhasil kebanyakan kita stuck, berhenti dan terpaksa bertahan dengan versi tanda tangan awal yang kita buat sewaktu masih cupu. Ini kan “pemaksaan” secara sistemik namanya?

Repotnya lagi, tanda tangan ini berfungsi untuk mengautorisasi berbagai macam hal itu. Mulai dari autorisasi pembayaran (e.g. tanda bukti bayar via kartu debit) sampai dengan autorisasi surat-surat penting kayak sertifikat, buku nikah, kontrak, dsb. Singkat cerita, tanda tangan ini sangat penting dan kita gunakan di berbagai aspek kehidupan kita.

Kebayang nggak sih, kalau hal yang kita buat sewaktu masih muda dan cupu itu secara sistemik “dipaksakan” untuk kita gunakan sampai tua? Lanjutkan membaca “Tanda Tangan”