Memperoleh Koefisien Model Jones

Saat ini saya sedang menyusun skripsi mengenai manajemen laba. Pengukurannya dengan menggunakan model Jones. Namun saya masih bingung bagaimana cara mendapatkan nilai koefisien untuk dimasukan kedalam rumus.

Konsep memperoleh nilai koefisien Model Jones cukup mudah. Kita hanya perlu meregresi data yang kita miliki. Koefisien kemudian akan muncul sebagai hasil regresi bersama dengan error atau akrual diskresionernya. Masalahnya jadi agak lebih kompleks bila kita menggunakan beragam industri, menggunakan motif/insentif untuk memanipulasi laba, atau karakter lainnya. Untuk itu, cara yang lazim untuk memperoleh koefisien Model Jones adalah sebagai berikut:

  1. Pisahkan observasian (data perusahaan-tahun) yang normal dengan observasian yang memiliki insentif untuk memanipulasi laba.
  2. Regresi data normal tersebut per industri. Ini dilakukan karena masing-masing industri memiliki pola manipulasi laba yang berbeda.
  3. Sebelum meregresi, jangan lupa save residuals. Ini memungkinkan anda langsung memperoleh nilai error (i.e. akrual diskresioner) tanpa harus menghitung ulang. Anda, tentu saja, hanya akan memperoleh akrual diskresioner observasian normal. (Penting: Langkah ini hanya boleh dilakukan bila model untuk mencari koefisien sama dengan model untuk mencari akrual diskresioner. Apabila ada perbedaan antara kedua model, langsung lanjutkan ke langkah 4 untuk seluruh observasian, perusahaan-tahun.)
  4. Sesudahnya, anda masukkan koefisien regresi dari output ke dalam rumus Model Jones untuk memperoleh akrual diskresioner dari observasian yang memiliki motif/insentif untuk memanipulasi laba.

Selamat mengerjakan. 😀


Komentar

110 tanggapan untuk “Memperoleh Koefisien Model Jones”

  1. met siang mbak..saya mau tanya lg nih…td sya habis konsul dengan dosen trus beliau suruh tmbhn penjelasan utk rumus regresi TAit/Ait-1 = a1( 1/Ait-1 ) + a2( REVt – REVt-1 / Ait-1 ) + a3 ( PPEt/ Ait-1 ) + e yang sudah diisi dengan koefisiennya. misalnya dr hasil penelitian saya saya memperoleh ACCRit = -985+ 0.4 [∆REV – ∆REC] +0.002 PPEit + eit trus yg mo saya tanyain gini mbak..bener ga mbak klo saya tmbhin penjelasan klo dr persamaan tersebut [∆REV – ∆REC] dan PPEit memiliki koefisien yg positif jadi tiap terdapat peningkatan pada [∆REV – ∆REC] dan PPEit maka akan meningkatkan ACCRit jg. soalnya saya baca dari bbrp refrensi jurnal dan skripsi ga da yg menjelaskan regresi tsb..jd saya kebingungan..hehe.. 😀

    Suka

    1. Hehe.. iya bener koq. Mungkin lucu juga kalau kamu tambahin angkanya sekalian. 😀

      Suka

  2. Febrianus Avatar
    Febrianus

    oh ya saya belum baca jawaban ibu tadi..hehe
    pas saya baca hasil statistiknya sih sepertinya memang bagus, (maksudnya setelah dijelasin sama jones nya, jd klo saya liat statistiknya sendiri ga gt ngerti :p ditambah pake inggris, tidak terbiasa 🙂 ) tapi terlalu lama untuk menganalisis dan mengerti semua hasilnya itu bu,,ya dikarenakan skripsi dituntut oleh waktu, jadi ngebuat penelitiannya kalo maw sampe bener” profesional akan sangat lama bu..hehe 🙂
    selain itu, menurut saya, harus butuh keahlian dalam pembacaan statistik, bkn hanya dari segi akuntansinya saja kalo maw bner” ngerti hubungan antar variabelnya.,karena bisa saja ada bagian dari statistik yang memang tidak dijelaskan oleh si peneliti 🙂

    Suka

    1. Hehe… ya nggak perlu bikin skripsinya sampai kayak Jones. Cukup mengerti papernya aja. 😀

      Suka

  3. Carla Avatar
    Carla

    Hmm aku bingung hehe.

    Jadi penelitian ku itu tentang pengaruh rotasi audit dan ukuran KAP terhadap kualitas audit. Nah kualitas audit nya diproksi kan dengan manajemen laba. Kalau manajemen laba nya rendah berarti kualitas auditnya tinggi, dan sebaliknya.

    Kalau kya gitu harusnya pakai yang mutlak/tdk ya?

    Maaf bu nanya terus. Terimakasih ya 🙂

    Suka

    1. Ow, berarti kamu nggak bikin hipotesis soal arah managemen labanya ya? Secara teknis, kamu bisa pakai dua-duanya. Nggak ada masalah. Kamu sajikan saja keduanya. Kemudian kamu analisa kenapa yang pakai yang mutlak nggak terdukung; sementara kenapa yang pakai plus minus justru hasilnya lebih baik. Itu bisa jadi analisis yang menarik.

      Suka

  4. Febrianus Avatar
    Febrianus

    hmm..saya uda coba baca deh bu..jadi maksud dari rumus
    TAit/Ait-1 = a1( 1/Ait-1 ) + a2( REVt – REVt-1 / Ait-1 ) + a3 ( PPEt/ Ait-1 ) + e hanya sekedar untuk mengontrol akrual dari sisi non discretionary ya bu?
    kalo seperti itu jawabannya, berarti saya uda tau dari makalah yang ibu bikin tentang penjelasan rumus jones..hehe

    lalu ini dari yang saya tangkap, kalo begitu, rumus di atas tadinya rumus sekaligus untuk menghitung non discretionary ya bu sebelum muncul rumus jones modifikasi yang rumusnya
    a2( REVt – REVt-1 / Ait-1 ) diikuti dengan perubahan piutang..ya ngga bu?
    hehe maaf merepotkan 🙂

    Suka

    1. Saya jelasin dari sisi lain ya… (hint: iya betul rumus nondiskresioner dan istilahnya bukan mengontrol)

      Kamu pengen meneliti tentang akrual diskresioner kan? Nah, sekarang gimana caranya mengestimasi nilai akrual diskresioner? Susah dong? Namanya juga kebijakan/diskresi managemen, jadi boleh “suka-suka”-nya managemen.

      Di sisi lain, ada akrual nondiskresioner yang lebih gampang diestimasi. Kenapa? Karena akrual nondiskresioner ini merupakan akibat/konsekuensi faktor lain. Misalnya akrual terkait piutang. Kalau kebijakan perusahaan adalah bikin cadangan piutang tak tertagih 10% dari total piutang, berarti kamu bisa memprediksi nilai akrual piutang tiap tahun kan?

      Di sisi lainnya lagi, kalau kita tau akrual nondiskresioner maka kita bisa tau juga akrual diskresionernya dong? Soalnya kita bisa tau total akrual dari laporan keuangan, tau akrual nondiskresioner dari estimasi, dan akhirnya tau akrual diskresioner (total akrual dikurang nondiskresioner).

      Berarti kerjaan pertama kita apa? Mengestimasi akrual nondiskresioner kan? Awalnya dulu, secara konsep, apa yang mempengaruhi akrual nondiskresioner secara keseluruhan? Jones berargumen itu adalah penjualan (pendapatan) dan properti, pabrik, dan peralatan (PPE). Akrual piutang misalnya, itu fungsi piutang. Nah, piutang terjadi karena apa? Penjualan kan? Jadi sebenarnya model Jones itu adalah justru model persamaan akrual nondiskresioner. 😛

      Akrual diskresionernya sendiri tidak masuk ke dalam model. Kalau kamu regresi, ada nggak hasil variabel akrual diskresioner? Enggak dong, karena rata-rata error term dalam regresi adalah 0. Keren ya pemikirannya Jones? Memanfaatkan error term, yang dalam persamaan empiris umumnya nggak terlalu berguna, jadi indikator utama buat penelitian. Coba cari persamaan lain yang memanfaatkan error term. Saya yakin persamaan utamamu (variabel managemen laba) pun nggak bakal memanfaatkan error term. (Nggak mungkin soalnya. Hehe.)

      Ini kenapa istilah mengontrol jadi keliru. Variabel kontrol hanya ada untuk “membantu” variabel utama. Akrual diskresioner bahkan bukan sebuah variabel. 😀

      Suka

  5. Febrianus Avatar
    Febrianus

    saya ada bu jurnalnya..yang judulnya “Earning Management During Import Relief Investigations” kan ya?
    Tapi sepertinya agak terlalu banyak untuk dibaca bu..apalagi inggris..hehe

    mungkin ibu bisa bantu, penjelasan tersebut secara spesifik ada di halaman yang mana, sampe” bisa muncul rumus seperti itu..nanti biar saya yang baca sendiri 🙂

    mohon bantuannya ya bu 😀

    Suka

    1. Halaah. Bahasa Inggris kan tinggal pake kamus. Kalau kurang ngerti ya kalimatnya dibikin skema. Percaya deh, begitu sedikit agak terbiasa, artikel-artikel jurnal top Amerika (termasuk papernya Jones) itu jauh lebih mudah dipahami daripada skripsi kakak kelasmu yang berbahasa Indonesia. 😛

      Oke, berhubung sudah ngomel… soal model itu mulai halaman 206 sampai 213 coba. Itu hasilnya asik buat dipelajari juga, dicocokkan sama tabel hasil biar lebih gampang ngertinya soalnya kan ada verifikasi angka, biasa… anak akuntansi.

      Btw, paper Jones itu bagus juga di penjelasan sampel dan pengembangan hipotesis. Runut dan jelas banget. Itu mulai halaman 200. Saya sangat menyarankan kamu mempelajari bagian itu juga. Kenapa? Banyak hal yang mungkin sejauh ini kamu lalui dengan bingung, akan menjadi jelas setelah itu. Jones pakai gaya bahasa yang nggak muluk-muluk, hanya pakai common sense namun justru itu yang bagus. (Kalau belum bisa njelasin ke nenekmu, berarti kamu belum terlalu ngerti. – kata Einstein).

      Trus, manfaat yang lain lagi adalah kita jadi tau bahwa di dalam setiap hal yang bagus (paper Jones ini termasuk paper seminal) ada makna/meaning yang kuat, bukan cuma sekedar canggih-canggihan konsep atau statistik. Ini ibaratnya kamu membantu orang karena punya alasan makna/meaning tadi (e.g. dia teman dekatmu, kamu beneran kasihan ngeliatnya). Bandingin dengan kamu membantu orang hanya karena kebiasaan (e.g. pengemis di lampu merah) atau karena harus (e.g. abis dikasi 1000 petuah misalnya). Perbuatan ngasihnya sih sama aja tapi mana yang lebih berarti buatmu? Nah, menyusun skripsi ini juga gitu, jadinya sih mungkin sama aja bagusnya. Namun mana yang lebih berarti buatmu? Itu kan yang penting?

      Biar lebih fair, saya kasi pertimbangan kosnya juga. Saya pikir kamu bisalah menyelesaikan belajar hipotesis dan sampel data itu dalam 2-3 hari. Kamu rencana/sudah mengerjakan skripsi berapa lama? Berapa persentase 2-3 hari itu dibandingkan totalnya? Nggak banyak kan? 😛

      Suka

  6. Carla Avatar
    Carla

    Halo Bu. Maaf mau tanya lagi.

    Saya kan sudah meregresi dan mendapatkan nilai akrual diskresioner. Nah untuk masukan ke regresi utama penelitian saya, awalnya nilai akrual diskresioner tsb saya jadikan mutlak karena mengikuti penelitian terdahulu. Namun hasilnya jadi aneh banget. Lalu saya coba kalau nilai akrual diskresionernya saya pakai apa adanya, jd ada yang + dan -. Hasilnya jauh lebih baik.

    Yang mau saya tanyakan : sebenarnya yang dipakai itu apakah harus nilai mutlak / tidak? Dan alasannya apa ya?

    Terimakasih banyak 🙂

    Suka

    1. Jiaah, lha jurnalmu alasannya apa lho? :p

      Gini akrual itu kan pada dasarnya ada yang positif dan negatif, disertai dengan konsekuensinya pada laba. (Kudu bisa jawab sendiri yang ini.) Trus, ketika jumlah positif dan negatif itu abnormal (lebih banyak dari yang diekspektasi) maka itu bisa jadi indikasi managemen laba. Managemen labanya gimana? Ya bisa positif atau negatif kan? Kan managemen itu nggak mesti pengen menginflasi* laba, bisa juga mendeflasi.

      Trus kenapa ada juga yang pakai absolut? Biasanya yang pakai nilai absolut adalah penelitian managemen laba yang mau liat keseluruhannya, baik menginflasi (+) maupun mendeflasi (-). Misalnya penelitian yang tanya apakah perusahaan di Indonesia juga melakukan managemen laba. Masalahnya sekarang, bisa nggak (+) sama (-) digabungkan? Trade-off dong? Itu kenapa trus nilainya diabsolutkan.

      Coba deh kamu bikin contoh sederhana pake angka. Misalnya ada 2 perusahaan yang sama-sama memanage laba. Satu perusahaan menginflasi laba sebesar (+) 100 sementara satu lagi mendeflasi laba sebesar (-) 95. Gimana hasilnya kalau langsung dijumlahkan dan gimana kalau diabsolutkan dulu? Mana yang lebih baik buat meneliti managemen laba secara umum?

      Terkait penelitianmu, sekarang konsepmu lebih cocok pake operasional penelitian yang mana? Dalam konsep kamu, entah secara eksplisit atau implisit, ada memberi kesan arah hipotesis nggak? Menginflasi, mendeflasi, atau keseluruhan?

      Semoga oke ya hasilnya. 😀

      *inflasi = peningkatan yang tidak nyata

      Suka

  7. Febrianus Avatar
    Febrianus

    bu maaf saya maw tanya lagi mengenai model jones untuk mendapatkan nilai koefisien a1, a2, a3 dst yang akan digunakan dalam perhitungan NDA..
    untuk mendapatkan koefisiennya kan digunakan rumus :
    TAit/Ait-1 = a1( 1/Ait-1 ) + a2( REVt – REVt-1 / Ait-1 ) + a3 ( PPEt/ Ait-1 ) + e

    nah pertanyaannya, rumus itu murni hanya untuk menghitung koefisien saja tanpa ada suatu alasan, atau ada latar belakang pemakaian rumus itu untuk mencari nilai koefisiennya?

    maaf ya bu banyak tanya..abis masih sedikit bingung tentang rumus manajemen laba 😀

    Suka

    1. Ada latar belakangnya dong… coba liat di paper Jones 1991, tentang import relief. 😀

      Suka

  8. Bu, mau nanya hasil perhitungan saya utk 1/TAt-1 menggunakan excel hasilnya 0,000 utk semua perusahaan.. apa hasilnya memang 0,000 bu?

    Suka

    1. Mungkin angka desimalnya kurang banyak. Soalnya nilai aset total kan bisa besar banget. Misalnya aja nilai aset totalnya 5 miliar, 1/AT berarti 1/5 miliar. 😀

      Suka

      1. oh iya Bu sdh bisa … trus hasil koefisien dari 1/total asset yg sdh saya regresikan hasilnya minus Bu… emang ga pp bu klo hasilnya minus?

        Suka

      2. Nggakpapa. 😀

        Suka

      3. Bu, nanya lagi.. hehe
        gini bu hasil DTAC sy yang sy hitung di excel berbeda dengan hasil save residual (RES 1). dioutputxa nilai konstan 0,03.. trus sy coba” hitung selisih antara DTAC yang diexcel dengan RES 1 di spss trus didapat hasilnya selisih 0,03 (sama dengan nilai konstan). hasil selisih ini sama untuk semua perusahaan dengan tahun yang berbeda (2009.2010,2011) pasti terdapat perbedaan 0,03.. apa itu berarti koefisien yang digunakan unstandard coeficients bu ? Makasih … 🙂

        Suka

      4. Sebenernya bisa pakai standardized ataupun enggak. Yang penting kamu konsisten. Misalnya kalau ambil koefisiennya yang standardized, save residualnya juga yang standardized, trus pas ngitung di Excel ya pake rumus yang standardized juga. Sebaliknya juga gitu. Nanti hasilnya sama koq. 😀

        Suka

      5. mksh Bu penjelasannya
        sdh sama hasilnya… hehe

        Suka

  9. Febrianus Avatar
    Febrianus

    oh ic ic..jadi tergantung indikator yang dipakai dalam kualitas laba nya ya bu..saya kemarin ini hanya liat kesimpulannya aja, jadi bingung 🙂
    ok deh makasih ya bu

    Suka

    1. Iya, sebaiknya memang simpulan indikatornya disesuaikan biar lebih intuitif dengan konsepnya. Namun penelitinya mungkin lupa.

      Suka

  10. Febrianus Avatar
    Febrianus

    sore bu, saya maw tanya..
    pertama, dalam jurnal seseorang dikatakan kualitas laba berpengaruh positif terhadap manajemen laba.. bukannya kualitas laba yang baik itu bila ditampilkan apa adanya dengan tanpa permainan manajemen laba? karena dalam pemikiran saya, seharusnya manajemen laba berbanding terbalik dengan kualitas laba.. mohon penjelasannya bu

    kedua, apakah “pengaruh GCG terhadap manajemen laba” dikategorikan kedalam topik akuntansi manjamen?

    makasih ya bu 🙂

    Suka

    1. Kalau soal yang pertama itu mungkin ada beda di operasional risetnya. Secara konsep memang betul yang kamu bilang, managemen laba berbanding terbalik dengan kualitas laba. Nah tapi mungkin dia mengukur managemen laba dengan variabel apa (e.g. akrual diskresioner) dan kualitas labanya dengan variabel apa. Mungkin kedua variabel yang dia teliti itu hubungannya positif sehingga dia menyimpulkan konsepnya, managemen dan kualitas laba, juga berhubungan positif.

      Yang kedua, kalau liat kecenderungan umum di sini, bisa sih sepanjang kamu survei (pendapat tentang GCG dan pendapat tentang managemen laba). Kalau data laporan keuangan umumnya masuk penelitian keuangan.

      Suka

  11. mba, aku mau tanya. aku kan menggunakan perusahaan manufaktur, sampel aku jumlah 21 dan periodenya 5 tahun, untuk cari koefisiennya aku cari per tahun (jadi nanti koefisiennya sluruh perusahaan pada tahun 2007 sama) atau per perusahaan (jadi aku kelompokkan per perusahaan dari 2007-2011),menurut mba gimana?
    trus saya mau tanya, untuk error term itu maksudnya apa ya? saya mesti pilih yg min,max, atau mean? saya tunggu balasannya, terima kasih

    Suka

    1. Bagusnya sih per tahun, per industri. Jadi biar sebanding gitu akrual diskresioner relatifnya.

      Wah saya nggak tau nih teknisnya error term. Error term itu sih secara konsep adalah aspek empiris sebuah persamaan. Kalau persamaan matematika, 4 = 2 + 2. Nah, kalau di empiris kadang-kadang 4 = 2 + 5; sebenernya ditulisnya 4 = 2 + 5 + e. E alias error term itu mencerminkan deviasi tren yang digambarkan oleh persamaan.

      Suka

  12. Carla Avatar
    Carla

    Hehehe ok, Bu saya coba. Nanti kalau bingung lagi saya tanya2 lagi ya 🙂
    Terimakasiiih banyak bantuannya.

    Suka

    1. Okee. 😀

      Suka

  13. Carla Avatar
    Carla

    Sore Bu, saya mau tanya. Dalam penelitian saya, variabel dependen yang digunakan adalah manajemen laba dengan model Modified Jones. Berarti kan saya harus melakukan 2x regresi ya? Pertama regresi manajemen laba untuk mencari akrual diskresioner, dan kedua regresi utama dari model penelitian saya.

    Yang mau saya tanyakan, apakah untuk regresi manajemen laba harus diperlakukan sama seperti regresi utama? Yaitu harus uji normalitas, asumsi klasik, statistik deskriptif, dll? Atau tidak perlu? Alasannya apa ya?

    Terimakasih sebelumnya, ditunggu balasannya 🙂

    Suka

    1. Iya, betul regresinya 2 kali. Regresi model Jones nggak perlu diuji lagi, sebab secara teoretis sudah memadai dan secara empiris sudah pernah diuji robustness-nya. Pengujian aspek empiris model Jones bisa diliat antara lain di paper Dechow dkk. (1995), “Detecting Earnings Management.” Alasan teknisnya bisa dipelajari dari situ.

      Untuk regresi penelitian anda sendiri, sebaiknya memang diuji karena kan belum pernah ada yang meneliti robustness-nya. 😀 Ini berjaga-jaga siapa tau model yang kita buat ternyata kurang bagus, ada variabel yang perlu dimasukkan (khusus managemen laba biasanya perlu variabel kendali kinerja, laba), dsb.

      Suka

      1. Carla Avatar
        Carla

        Terimakasih balasannya, Bu.

        Jadi untuk regresi Modified Jones saya hanya perlu lihat nilai koefisiennya saja ya, Bu? Untuk paper Dechow saya bisa dapat dimana ya, Bu? Sudah saya coba cari tapi tidak ketemu 😦

        Oya, kebetulan yang saya gunakan adalah data panel, berarti nanti nilai koefisien yang digunakan untuk seluruh perusahaan dan seluruh tahun sama ya?

        Ditunggu balasannya, Bu. Terimakasih banyak 🙂

        Suka

      2. Iya, liat nilai koefisiennya saja. Kalau data panel, biasanya diregresi per industri. Nanti koefisiennya juga berlaku per industri. Ini biar ekspektasinya lebih spesifik dan, harapannya, lebih tepat.

        Soal paper, di kampusmu ada database jurnal nggak? EBSCO, JSTOR gitu? Ada di situ. Kalau nggak ada, mungkin bisa tanya teman yang kampusnya punya database jurnal. Kalau ada dosenmu yang meneliti managemen laba, biasanya punya juga.

        Suka

      3. Carla Avatar
        Carla

        Halo, Bu. Terimakasih balasannya.

        Objek penelitian saya hanya menggunakan 1 industri saja yaitu property real estate. Kalau begitu, berarti tidak perlu dipisah2kan ya? Jadi nilai koefisiennya adalah sama untuk semua perusahaan dan semua tahun?

        Terimakasih sekali bantuannya, Bu. Ditunggu balasannya 🙂

        Suka

      4. Oh iya, kalau gitu sih gak perlu per industri. Namun mungkin ada baiknya kalau kamu pisahkan per tahun. Biar ada kerjaan dikit. :p Nggak ding, biar lebih spesifik dengan kondisi ekonomi. Tahun 2007 mungkin properti lesu, 2010 bisa saja berkembang pesat. Itu kan ngefek juga ke akrual diskresioner.

        Suka

  14. valen Avatar
    valen

    berkat baca artikel di blog mbak ma tny” mbak..hoho…bisa lanjutin penelitiannya deh..makasih byk mbak 😀

    Suka

    1. Sama-sama. Semoga sukses penelitiannya. B-)

      Suka

  15. valen Avatar
    valen

    makasi mbak sarannya…hasil perhitungan spss ma excelnya uda bisa… 😀

    Suka

    1. Yay! Ikut seneng. 😀

      Suka

  16. valen Avatar
    valen

    ok mbak..saya coba dulu 😀 makasih sarannya

    Suka

    1. Sama-sama, semoga yang ini oke ya. Saya nggak tau lagi alternatif jawabannya soalnya. 😛

      Suka

  17. valen Avatar
    valen

    saya ngikutin pedoman dari jurnal yg saya baca..koefisiennya pake unstandard bgitu juga dengan residunya sudah saya cek sama dengan koefisiennya..hasilnya tetap beda..

    Suka

    1. Ow, kayaknya kamu mestinya pake yang standardized deh, soalnya kamu kan gak pake konstan.

      Suka

  18. valen Avatar
    valen

    maaf mbak saya mau tanya lagi nih..soalnya bingung…
    Mbak, saya sudah coba menghitung regresi utk mencari koefisiennya kemudian memasukkan koefisien tsb utk mendapat ndacc tiap perusahaan. tapi setelah saya mengurangkan TACC/TAt-1 dng NDACC untuk mendapatkan dacc hasilnya tdk sama dengan save residualnya..apa saya salah melakukan proses regresinya atau perhitungan di excel saya yg salah y mbak?bedanya jau bgt soalnya..sdgkan dicomment sblmnya mba blg klo hslnya plg meleset sedikit..
    ini variabel yg saya mskkan ke spss
    Y= TACC/TAt-1, x1= 1/TAt-1, x2= (REVit-RECit)/TAt-1, x3= PPEit/TAt-1.
    kemudian di spss analyze, regression linear, save residual… keluar hasilnya res 1.

    kalo di perhitungan excelnya saya mengalikan terdahulu tiap koefisiennya kmudian baru saya jumlahkn…koefisiennya a1,a2,a3 jd saya memisahkannya menjadi 3 sel.
    a1*1/TAt-1, a2*(REVit-RECit)/TAt-1, a3*PPEit/TAt-1. setelah memperoleh hasilnya dr ketiga perkalian tersebut lalu saya jumlah ke 3 sel tersebut utk mencari ndac. setelah itu saya selisihkan TACC/TAt-1-ndac

    setelah saya bandingkan hasilnya beda jauh mbak..misalnya di spss hasilnya 0.00262, di excel hsl perhitungan saya -0.01698662.

    Suka

    1. Saya kepikirannya cuma mungkin ada keliru pakai koefisien. Kamu pakai koefisien sama residualnya yang apa? Standardized atau unstandardized? Saya belum kepikiran penyebab lainnya, jadi coba dicek jenisnya itu dulu ya. Ini ada sedikit penjelasan di tautan bawah ini. Pertama, kamu cek dulu jenis koefisienmu sudah betul belum (standardized sama unstandardized). Abis itu, kamu cek lagi apakah jenis residual yang kamu save (res1) sudah sama dengan jenis koefisien. Kalau sudah sih, mestinya hasil kurang-lebih sama.

      https://arierahayu.wordpress.com/2012/02/24/koefisien-model-jones-dan-sampel-managemen-laba/

      Suka

  19. valen Avatar
    valen

    makasih byk mbak infonya…mau tny lg nih mbak…apakah hasil perhitungan dari DACC = (TACC/TA) – (NDACC) harus sama dgn hasil residual jika lsg hitung dengan spss dgn menggunakan save residual?

    Suka

    1. Mestinya sih, tapi kadang gak sama karena
      1. model cari koefisien (di SPSS) mungkin beda dengan model untuk nyari akrual diskresioner
      2. kalo kamu pake 2 software yang beda, misalnya SPSS sama Excel, kadang transfer datanya meleset2 dikit (mis: 0,98765 jadi 0,988)

      Suka

  20. valen Avatar
    valen

    sore mba saya mao tny nih

    TACC = EBXT-OCF………………………………….. (1)

    TACC/TA= a1(1/TA) + a2((REV-REC)/TA + a3(PPE/TA)………… (2)

    TACC/TA= a1 (1/TA) + a2 ((REV-REC)/TA + a3 (PPE/TA) + e….(3)

    NDACC = a1 (1/TA) + a2 ((REV-REC)/TA + a3 (PPE/TA)…………..(4)

    DACC = (TACC/TA) – (NDACC)…………………………….(5)

    yang mau saya tnyin gini mba kan 1/ta dipenelitian saya menghasilkan angka desimalnya misalnya 0,00000000000001234 stlh saya mskin ke spss ternyata spss hny bisa membaca 16 digit saja, apakah boleh saya sederhanakan angka tersebut dengan mengalikan semua angka variabel saya dengan 100 atau 1000 biar bisa kebaca di spss?

    trus setelah memperoleh koefisien regresinya dan dimasukkn ke rumus regresinya apakah lsg di kalikan dengan (1/TA), (rev-rec)/Ta, (ppe/ta) nya untuk mendptkan nilai ndacnya kemudian dimskin ke rms ke 5 utk daccny atau rumus ke (2) nya langsung di regresikan dengan save residual saja dan dianggap sbg dacc?

    terima kasih sblmnya

    Suka

    1. Bisa untuk di-SPSS-nya tapi waktu ngitung akrual diskresioner, jangan lupa dibagi lagi ya. 😀

      Kalau variabelmu dikali 100 dulu, berarti gak bisa langsung save residual. Soalnya kayaknya bakal beda tuh hasilnya. Biar lebih yakin, tolong kamu cobain dulu ya buat 5 observasian gitu misalnya.

      Suka