Cara-Cara Manipulasi Laba

“Too many corporate managers, auditors, and analysts are participants in a game of nods and winks. In the zeal to satisfy consensus earnings estimates and project a smooth earnings path, wishful thinking may be winning the day over faithful representation.

(Arthur Levitt 1999)

Manipulasi laba merupakan salah satu topik akuntansi yang paling banyak dipelajari dan diteliti. Hal ini terjadi karena peran laba yang luar biasa penting dalam laporan keuangan, juga karena topik ini relatif abstrak sehingga pro-kontra terjadi di segala sisi. Mulai dengan perdebatan level konseptual hingga ke level paling teknis. Perdebatan level konseptual bisa kita lihat dari hal yang mendasar sekali, kenyataan bahwa angka laba, secara teknis, merupakan hasil “manipulasian.” Sebab angka laba, yang didasarkan pada konsep akrual, ditentukan oleh para akuntan sendiri. Berbeda dengan, katakanlah, nilai pasar, yang pada kondisi paling idealnya memiliki nilai yang objektif. Misalnya, nilai pasar perusahaan publik yang sudah jelas tidak bisa diutak-atik lagi. Sementara itu, perdebatan di level teknis yang umum dijumpai adalah terkait model deteksi yang digunakan, apakah model tersebut cukup baik atau bahkan cukup mampu memprediksi nilai manipulasi laba yang terjadi.

Namun demikian, sebenarnya apa sih manipulasi laba itu? Healy dan Wahlen dalam papernya “A Review of Earnings Management Literature and Its Implications”  mendefinisi manipulasi laba sebagai hal yang

“occurs when managers use judgment in financial reporting and in structuring transactions to alter financial reports to either mislead some stakeholders about the underlying economic performance of the company or to influence contractual outcomes that depend on reported accounting numbers.”

Menurut Healy dan Wahlen, manipulasi laba terjadi ketika manager mengubah laporan keuangan untuk mengelirukan atau mempengaruhi pemangku kepentingan. Perubahan laporan keuangan itu sendiri bisa dilakukan dengan 2 cara, bisa melalui pertimbangan (judgment) seperti keputusan bahwa suatu aset perlu dihapus (write-off) ataupun melalui penstrukturan transaksi, misalnya dengan meningkatkan penjualan di akhir tahun.

Sementara itu Baruch Lev dalam papernya “Corporate Earnings: Facts and Fiction” menyebut bahwa

“[M]anipulated earnings can be defined as those that provide a poor or deceptive guide to future earnings and cash flows due to intentional intervention by management.”

Ada dua poin penting dalam definisi manipulasi laba. Pertama adalah faktor niat yaitu pengubahan hasil keuangan haruslah ditujukan untuk menyesatkan atau mengelirukan (mislead) investor.

Faktor niat menjadi penting karena pengubahan hasil keuangan dapat juga ditujukan untuk memberi informasi yang lebih berguna bagi investor. Dalam paper “Earnings Management and Earnings Quality”, Kin Lo menyebut bahwa faktor niat ini penting terkait dengan desain penelitian yang digunakan untuk mendeteksi manipulasi laba. Adanya niat mengimplikasi adanya motif tertentu bagi manager untuk memanipulasi laba. Oleh karena itu, motif harus masuk dalam desain penelitian manipulasi laba.

Poin penting kedua adalah adanya berbagai macam cara untuk memanipulasi laba. Manipulasi laba tidak hanya melalui pengubahan estimat dalam pengestimasian akrual namun juga bisa melalui cara-cara lain yang tidak terkait dengan pengubahan estimat namun tetap mempengaruhi akrual.

Poin ini penting karena manipulasi laba sering dikaitkan dengan buruknya konsep akrual yang digunakan akuntansi (lihat paper Dechow dan Skinner, “Earnings Management: Reconciling the Views of Accounting Academics, Practitioners, and Regulators”). Hal ini secara substansi tidaklah benar. Hal ini dapat dilihat bila kas digunakan sebagai ukuran kinerja alih-alih laba, ceteris paribus, maka manager pun akan memanipulasi kas ketika mereka memiliki insentif untuk itu. Hal ini berdampak pada aspek pembahasan (dalam literatur) manipulasi laba yang kurang tepat bila memasukkan isu penggunaan konsep/basis akrual yang dipilih akuntansi (versus basis kas) ke dalam latar belakang manipulasi laba.

Ada sejumlah cara untuk memanipulasi laba, baik melalui faktor akuntansi (altering judgment menurut Healy dan Wahlen) maupun faktor real.

Cara-cara Manipulasi Laba

#1 Manipulasi Akuntansi

Manipulasi akuntansi merujuk pada cara-cara yang tidak memiliki dampak pada aliran kas atau faktor real. Manipulasi ini dilakukan, meminjam istilah Baruch Lev, only by the stroke of the pen. Hanya dengan goresan pena. Satu contoh dunia nyata adalah pada kasus WorldCom Corp. yang pada periode 2000 dan 2001 mencatat (mengakui) biaya sebesar $7 miliar sebagai pengeluaran modal (aset). “Kekeliruan” pencatatan ini menginflasi laba WorldCom Corp. dalam jumlah yang sama selama dua periode tersebut tanpa sedikitpun dampak pada dimensi real perusahaan (seperti aktivitas investasi, manufaktur, pemasaran).

#1a Within GAAP

Cara ini memanipulasi laba dengan menggunakan fleksibilitas yang diperbolehkan oleh GAAP. Manipulasi laba semacam ini dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok berikut:

Methods selection—memilih metoda alokasi depresiasi, aliran biaya pada sediaan. Cara ini tidak terlalu efektif untuk memanipulasi laba. Alasan pertama adalah manipulasi laba dengan pemilihan metoda dapat dideteksi oleh pemangku kepentingan mengingat perubahan metoda akuntansi harus diungkap dalam catatan laporan keuangan. Sementara alasan kedua adalah cara ini tidak dapat sering-sering digunakan karena pengubahan metoda yang terlalu sering tentu akan menimbulkan kecurigaan.

Altering judgment—mengubah estimasi seperti pada umur ekonomis dan nilai sisa pada aset jangka panjang, perkiraan piutang tak tertagih, asset impairments. Manipulasi laba semacam ini sangat sulit dideteksi oleh investor secara umum.

Structuring transactions—menstruktur kontrak sewa guna usaha (capital atau operating lease), investasi saham/ekuitas (dikonsolidasi atau tidak dikonsolidasi).

#1b Violates GAAP

Manipulasi laba semacam ini mencakupi pelanggaran secara nyata pada aturan umum yang berlaku  seperti mengakui transaksi fiktif, mempercepat pengakuan pendapatan (backdating).

#2 Manipulasi Faktor Real

Manipulasi laba melalui aktivitas real dilakukan melalui perubahan tingkat (level) atau juga timing atas aktivitas investasi atau operasi. Pada pertengahan tahun 2002, misalnya, Securities and Exchange Commission (SEC) melakukan penyelidikan atas Bristol-Myers Squibb. Penyelidikan dilakukan untuk menentukan apakah penawaran diskon luar biasa besar yang diberikan Bristol-Myers Squibb kepada pedagang besarnya (wholesalers) yang mengakibatkan “tambahan” pendapatan $1 miliar di tahun 2001 merupakan manipulasi laba.

#2a Nonmiopik

Cara nonmiopik adalah cara yang tidak banyak berpengaruh pada faktor jangka panjang perusahaan. Cara ini antara lain produksi berlebih (overproduction), menunda penjualan ke periode berikutnya (misal: Desember ke Januari).

#2b Miopik

Cara miopik adalah cara yang sangat mungkin berpengaruh pada faktor jangka panjang perusahaan. Misalnya menunda biaya R&D, pengiklanan, mempercepat penjualan melalui potongan harga besar-besaran (merusak merek). Penundaan biaya R&D, misalnya, dapat berakibat pada penundaan peluncuran produk baru. Hal ini dapat berakibat pada terlambatnya perusahaan memasuki pasar.


Tulisan ini sebelumnya saya masukkan ke The Acitya Report – Edisi Perdana.

Mengapa Akrual Total – Model Jones

Akrual total sekarang merupakan hal lumrah di literatur managemen laba. Hampir semua penelitian managemen laba menggunakan model berbasis akrual total. Namun, dulu nggak gitu lho.

Waktu Jennifer Jones menyusun papernya “Earnings Management During Import Relief Investigation”, yang kemudian terbit tahun 1991, akrual total justru nggak banyak digunakan. Pada saat itu, penelitian lebih banyak menggunakan perubahan metode akuntansi (e.g. LIFO ke FIFO) dan akrual singel (e.g. cadangan piutang tak tertagih) sebagai indikasi terjadi atau tidak terjadinya managemen laba.

Lantas mengapa Jones menggunakan akrual total?

Ini gara-gara niatan penelitian Jones. Dia ingin meneliti apakah perusahaan yang diuntungkan oleh pembatasan impor akan memanipulasi labanya.

Waktu itu, International Trade Commission (ITC) Amerika Serikat ingin cari tau apakah perlu membatasi impor ke negerinya. Kalau memang perlu, ITC bisa meningkatkan tarif atau menurunkan kuota impor sehingga nilai impor ke Amerika berkurang. Hal ini tentu menguntungkan produsen barang dalam negeri Amerika sebab pesaing mereka berkurang dan harga barang akan lebih menguntungkan (konsep permintaan dan penawaran). Tentu adalah wajar bila produsen dalam negeri menginginkan adanya pembatasan impor.

Bagaimana caranya?

Salah satu kriteria ITC untuk membatasi impor adalah profitabilitas industri. Bila laba industri jelek atau menurun karena impor maka ITC mungkin akan mempertimbangkan pembatasan impor. Di sini, perusahaan dalam industri tersebut tentu sedikit-banyak terdorong untuk menurunkan labanya atau lebih tepatnya mendeflasi laba mereka (mendeflasi: menurunkan laba secara semu) agar bisa memperoleh pembatasan impor.

Oleh sebab itu, Jones ingin melihat apakah perusahaan yang diuntungkan oleh adanya pembatasan impor melakukan pendeflasian laba.

Bila kamu manager salah satu perusahaan tersebut, cara mendeflasi laba apa yang mungkin kamu pakai? Berhubung ITC menggunakan angka laba sebelum pajak maka manager bisa memanfaatkan segala jenis akrual untuk mendeflasi laba mereka. Bisa menggunakan akrual gaji, cadangan piutang tak tertagih, bonus managemen, dan sebagainya. Semua bakal ada dampaknya ke laba.

Makanya, Jones menggunakan akrual total.

Caranya gimana? Kan kita nggak tau jelasnya akrual apa yang dimanipulasi untuk mendeflasi laba? Di sinilah asiknya model yang kemudian bakal terkenal dengan nama Model Jones ini…

Jones mengajak kita melihat pola akrual perusahaan-perusahaan tersebut.

Asumsinya, manager dan perusahaan kan nggak setiap saat juga memanipulasi laba. Soalnya managemen laba kan perlu usaha (effort) juga yah. Lagian kalau nggak ada untungnya trus buat apa? Oleh karenanya, kebanyakan laporan keuangan itu sebenarnya tidak dimanipulasi alias normal. Hanya dalam kondisi tertentu aja perusahaan melakukan managemen laba. Lagi pengen pembatasan impor misalnya. Logikanya, ini berakibat pada berubahnya pola akrual saat perusahaan terdorong untuk memanipulasi laba. Perubahan pola inilah yang hendak dilihat Jones. Bagaimana caranya?

Jones mengestimasi akrual normal, yang ia sebut nondiskresioner, dengan mengembangkan suatu model spesifik-perusahaan. Model ini mempertimbangkan terjadinya perubahan akrual akibat adanya perubahan kondisi perekonomian. Misalnya, bila perekonomian bagus maka penjualan cenderung naik dan, konsekuensinya, piutang penjualan akan cenderung naik juga. Itu kenapa kita melihat variabel pendapatan, piutang, dan aset tetap di dalamnya, sebab mereka juga mencerminkan perubahaan perekonomian. Model inilah yang kemudian kita kenal sebagai Model Jones.

Menarik ya ceritanya? Lanjutannya bisa kalian baca di paper Jennifer J. Jones (1991), “Earnings Management during Import Relief Investigation.”

Memperoleh Koefisien Model Jones

Saat ini saya sedang menyusun skripsi mengenai manajemen laba. Pengukurannya dengan menggunakan model Jones. Namun saya masih bingung bagaimana cara mendapatkan nilai koefisien untuk dimasukan kedalam rumus.

Konsep memperoleh nilai koefisien Model Jones cukup mudah. Kita hanya perlu meregresi data yang kita miliki. Koefisien kemudian akan muncul sebagai hasil regresi bersama dengan error atau akrual diskresionernya. Masalahnya jadi agak lebih kompleks bila kita menggunakan beragam industri, menggunakan motif/insentif untuk memanipulasi laba, atau karakter lainnya. Untuk itu, cara yang lazim untuk memperoleh koefisien Model Jones adalah sebagai berikut:

Lanjutkan membaca “Memperoleh Koefisien Model Jones”

Konsep Akrual Diskresioner dalam Penelitian Managemen dan Kualitas Laba

Mohon pencerahan, saya meneliti tentang kualitas laba yang pengukurannya menggunakan discretionary accrual. Pendapat Dechow menyatakan DA model Jones cocok untuk mengukur manajemen laba. Lalu bagaimana hubungan manajemen laba dengan kualitas laba? *saya ditanya dosen ”kamu meneliti kualitas laba atau manajemen laba?” Hehe. Terima kasih.

Pertama kali, kamu perlu tau dulu apa makna akrual diskresioner. Secara konsep, akrual diskresioner adalah akrual yang nilainya ditentukan oleh kebijakan/diskresi managemen. Akrual diskresioner dianggap memiliki hubungan yang terpola dengan aspek-aspek lain perusahaan, seperti akrual total, pendapatan, piutang, plant, property, and equipment (PPE). Kadang, ada sejumlah nilai akrual diskresioner yang tidak cocok dengan pola hubungannya dengan aspek-aspek tersebut. Nilai ini disebut akrual diskresioner abnormal,yang sering digunakan sebagai proksi bahwa akrual diskresioner telah “diutak-atik.” Tujuan akhir utak-atik akrual diskresioner tersebut, tentu saja, adalah utak-atik angka laba atau, dengan kata lain, manipulasi laba.

Lanjutkan membaca “Konsep Akrual Diskresioner dalam Penelitian Managemen dan Kualitas Laba”

Signed or Unsigned Total Accrual

Ferryandi DeLta:

Sy menggunakan model dechow utk ngitung earning management. yg ingin saya tanyakan:

1.perusahaan yang rugi (tidak laba) diikutsertakan dalam sampel atau tidak?

2.koefisien hasil regresi yg digunakan untuk menghitung Non diskresioner akrual itu yang standardized atau yang unstandardized mbak?

3. dalam perhitungan Total akrual = laba – arus kas operasi, bagaimana jika:

laba (-) , arus kas operasi (-)
laba (+) , arus kas operasi (-)
laba (-) , arus kas operasi (+)

pada ketiga kondisi laba dan arus kas operasi diatas, Total akrual kita hitung brdasarkan aturan matematis yang sebenarnya, ( – vs – = +, + vs – = -) atau pakai dasar logika akuntansi (memutlakkan arus kas operasi, atau bagaimana).

Lanjutkan membaca “Signed or Unsigned Total Accrual”