Data yang Diolah – Managemen Laba

liasaliyah

Kak saya mau tanya, Penelitian saya kan mengenai manajemen laba data yang digunakan data panel annual report thn 2011-2015. Nah untuk koefisien regresinya itu harus di hitung per perusahaan atau per seluruh data kak?

Itu tergantung pertanyaan penelitian dan desain penelitian kamu sih. Perlunya pengolahan data yang seperti apa.

Sedikit trik, tapi belum tentu berlaku di semua kondisi, adalah apa “normal” kamu? Yang dianggap normal (tidak dimanipulasi laba) itu yang seperti apa?

Kuncinya adalah suspect – nonsuspect. Mana observasian yang diperkirakan melakukan managemen laba (i.e. suspect) dan mana yang diperkirakan tidak melakukan managemen laba (i.e. nonsuspect). Yang diregresi kemudian yang nonsuspect alias normal.

Misalnya di paper Jones, Earnings Management During Import Relief Investigation (1991), dia menganggap bahwa (data) normalnya adalah (data) perusahaan itu sendiri sebelum ada investigasi untuk pembatasan impor. Berhubung normalnya adalah perusahaan itu sendiri maka yang dia regresi ya data per perusahaan, tapi yang periode investigasi itu nggak diikutkan.

Sementara ada juga penelitian lain yang menganggap bahwa yang normal adalah perusahaan sejenis (mis: satu industri) yang tidak diduga memanipulasi laba. Alhasil penelitian ini menggunakan data panel (per tahun per industri).

Selain itu ada juga model penelitian umum yang hanya bertanya apakah terjadi managemen laba dari tahun ke tahun, misalnya. Dalam penelitian ini kan nggak ada suspect-nonsuspect yah. Jadi yang diregresi ya semua data perusahaan di tiap tahun.

Begitu. Tergantung pertanyaan penelitian dan desain penelitianmu seperti apa.

Oya, sedikit soal suspect – nonsuspect ini juga saya bahas di sini http://wp.me/poL5J-ud

Memulai Model Jones

Dalam paper “Earnings Management During Import Relief Investigation” (1991), Jennifer Jones memulai pemaparan hasilnya dengan statistik deskriptif berbasis Model DeAngelo (1986). Bagaimana sih Model DeAngelo ini?

Dalam model ini, akrual normal (ekspektasian) adalah akrual dari satu periode yang ditentukan. Kemudian, akrual abnormal adalah selisih akrual saat ini dengan akrual normal alias akrual periode tersebut. Misalnya nih, kita menggunakan tahun 2005 sebagai acuan akrual normal. Untuk tahu akrual abnormal tahun 2015 maka kita perlu mengurangkan akrual 2015 dengan akrual 2005.

Model ini memiliki asumsi dasar bahwa nyaris tidak ada perubahan akrual nondiskresioner dari tahun ke tahun alias ∆NA ≈ 0. Ini berarti perubahan akrual total hanya berasal dari perubahan akrual diskresioner. Ini berarti pula bahwa akrual total abnormal memiliki nilai yang nyaris sama dengan akrual diskresioner abnormal.

Mungkin bakal lebih jelas kalau pakai simbol matematis yah…

∆TA = ∆NDA + ∆DA

Bila (asumsi) ∆NA ≈ 0 maka

∆TA ≈ 0 + ∆DA

∆TA ≈ ∆DA

Keterangan:

∆TA = perubahan akrual total

∆DA = perubahan akrual diskresioner

∆NDA = perubahan akrual nondiskresioner

Kondisi Ekonomik

Nah, Jones kemudian memiliki pertanyaan krusial.. Bagaimana bila perubahan akrual nondiskresioner tidak sama dengan 0? Melainkan memiliki nilai tertentu sesuai dengan perubahan kondisi ekonomiknya? Dengan kata lain, bagaimana bila perubahan akrual nondiskresioner merupakan fungsi dari faktor ekonomiknya?

∆NDA = ∆ f(faktor ekonomik)

Apa aja faktor ekonomiknya? Jones memilih 2 variabel yang sepertinya ia gunakan sebagai proksi faktor ekonomik yang bisa mempengaruhi kondisi perusahaan dan, pada gilirannya, akrual nondiskresioner.

Pendapatan/Revenue (REV)    Variabel pertama adalah pendapatan. Secara umum, bila ada perubahan kondisi perekonomian maka pendapatan mau tidak mau pastilah terpengaruh. Dalam konteks paper Jones, bila impor terlalu besar maka diperkirakan industri dalam negeri akan tertekan. Hal ini bisa terjadi karena mungkin kualitas barang impornya jauh lebih baik ataupun dengan bertambahnya pasokan maka harga akan tertekan turun. Manapun yang terjadi, ada kemungkinan cukup besar bahwa pendapatan perusahaan dalam negeri akan menurun.

Selain itu, pendapatan juga memiliki kaitan langsung dengan akrual total. Perubahan pendapatan sangat mungkin juga akan mempengaruhi (akrual) piutang, sediaan, dan utang. Berhubung Jones menggunakan modal kerja (working capital) sebagai dasar penghitungan akrual totalnya maka pengaruh perubahan pendapatan akan sangat terasa.

Plant, Property, and Equipment (PPE)      Variabel kedua adalah PPE. (Maaf ya istilah Indonesianya ribet nih.) Kenapa PPE dimasukkan? Kata Jones sih ini untuk mengontrol bagian akrual total yang terkait dengan biaya depresiasi nondiskresioner.

Apakah mungkin ada biaya depresiasi yang berubah bukan karena managemen?

(Btw, diskresioner sendiri berarti kebebasan untuk memilih, yang maknanya dalam konteks bisnis adalah kebijakan managemen.)

Mungkin aja. Bila ada perubahan nilai pabrik, properti, ataupun peralatan. Misalnya ada mesin nilainya Rp 100 juta, dengan umur ekonomis 10 tahun. Kalau pakai metode garis lurus maka depresiasinya Rp 20 juta per tahun ya? Kalau nih tiba-tiba ada onderdil mesin yang rusak sehingga umur ekonomisnya menyusut jadi 5 tahun maka mestinya ada perubahan depresiasi dong? Nah ini adalah contoh depresiasi yang terjadi bukan karena kebijakan managemen alias nondiskresioner.

Oke, sekarang ada 2 faktor ekonomik yang digunakan Jones. Ini berarti

∆NDA = ∆ f(faktor ekonomik)

∆NDA = f(REV, PPE)

REV dan PPE

Coba kita kembali ke persamaan awal tadi yah..

∆TA = ∆NDA + ∆DA

Bila ∆NDA = f(REV, PPE) maka

∆TA = ∆ f(REV, PPE) + ∆DA

Nah tapi…

persamaan di atas bicara soal perubahan, padahal kita tau sendiri bahwa Model Jones menggunakan tingkat/level. Oleh karena itu, aspek perubahannya (∆) perlu kita ilangin nih

TA = f(REV, PPE) + DA

 

Nah kurang lebih beginilah logika mulai terbentuknya Model Jones. Namun demikian, ini masih logika dalam persamaan matematis, padahal Jones menggunakan persamaan regresi. Kita bahas lagi kapan-kapan yah. 😀

Cara-Cara Manipulasi Laba

“Too many corporate managers, auditors, and analysts are participants in a game of nods and winks. In the zeal to satisfy consensus earnings estimates and project a smooth earnings path, wishful thinking may be winning the day over faithful representation.

(Arthur Levitt 1999)

Manipulasi laba merupakan salah satu topik akuntansi yang paling banyak dipelajari dan diteliti. Hal ini terjadi karena peran laba yang luar biasa penting dalam laporan keuangan, juga karena topik ini relatif abstrak sehingga pro-kontra terjadi di segala sisi. Mulai dengan perdebatan level konseptual hingga ke level paling teknis. Perdebatan level konseptual bisa kita lihat dari hal yang mendasar sekali, kenyataan bahwa angka laba, secara teknis, merupakan hasil “manipulasian.” Sebab angka laba, yang didasarkan pada konsep akrual, ditentukan oleh para akuntan sendiri. Berbeda dengan, katakanlah, nilai pasar, yang pada kondisi paling idealnya memiliki nilai yang objektif. Misalnya, nilai pasar perusahaan publik yang sudah jelas tidak bisa diutak-atik lagi. Sementara itu, perdebatan di level teknis yang umum dijumpai adalah terkait model deteksi yang digunakan, apakah model tersebut cukup baik atau bahkan cukup mampu memprediksi nilai manipulasi laba yang terjadi.

Namun demikian, sebenarnya apa sih manipulasi laba itu? Healy dan Wahlen dalam papernya “A Review of Earnings Management Literature and Its Implications”  mendefinisi manipulasi laba sebagai hal yang

“occurs when managers use judgment in financial reporting and in structuring transactions to alter financial reports to either mislead some stakeholders about the underlying economic performance of the company or to influence contractual outcomes that depend on reported accounting numbers.”

Menurut Healy dan Wahlen, manipulasi laba terjadi ketika manager mengubah laporan keuangan untuk mengelirukan atau mempengaruhi pemangku kepentingan. Perubahan laporan keuangan itu sendiri bisa dilakukan dengan 2 cara, bisa melalui pertimbangan (judgment) seperti keputusan bahwa suatu aset perlu dihapus (write-off) ataupun melalui penstrukturan transaksi, misalnya dengan meningkatkan penjualan di akhir tahun.

Sementara itu Baruch Lev dalam papernya “Corporate Earnings: Facts and Fiction” menyebut bahwa

“[M]anipulated earnings can be defined as those that provide a poor or deceptive guide to future earnings and cash flows due to intentional intervention by management.”

Ada dua poin penting dalam definisi manipulasi laba. Pertama adalah faktor niat yaitu pengubahan hasil keuangan haruslah ditujukan untuk menyesatkan atau mengelirukan (mislead) investor.

Faktor niat menjadi penting karena pengubahan hasil keuangan dapat juga ditujukan untuk memberi informasi yang lebih berguna bagi investor. Dalam paper “Earnings Management and Earnings Quality”, Kin Lo menyebut bahwa faktor niat ini penting terkait dengan desain penelitian yang digunakan untuk mendeteksi manipulasi laba. Adanya niat mengimplikasi adanya motif tertentu bagi manager untuk memanipulasi laba. Oleh karena itu, motif harus masuk dalam desain penelitian manipulasi laba.

Poin penting kedua adalah adanya berbagai macam cara untuk memanipulasi laba. Manipulasi laba tidak hanya melalui pengubahan estimat dalam pengestimasian akrual namun juga bisa melalui cara-cara lain yang tidak terkait dengan pengubahan estimat namun tetap mempengaruhi akrual.

Poin ini penting karena manipulasi laba sering dikaitkan dengan buruknya konsep akrual yang digunakan akuntansi (lihat paper Dechow dan Skinner, “Earnings Management: Reconciling the Views of Accounting Academics, Practitioners, and Regulators”). Hal ini secara substansi tidaklah benar. Hal ini dapat dilihat bila kas digunakan sebagai ukuran kinerja alih-alih laba, ceteris paribus, maka manager pun akan memanipulasi kas ketika mereka memiliki insentif untuk itu. Hal ini berdampak pada aspek pembahasan (dalam literatur) manipulasi laba yang kurang tepat bila memasukkan isu penggunaan konsep/basis akrual yang dipilih akuntansi (versus basis kas) ke dalam latar belakang manipulasi laba.

Ada sejumlah cara untuk memanipulasi laba, baik melalui faktor akuntansi (altering judgment menurut Healy dan Wahlen) maupun faktor real.

Cara-cara Manipulasi Laba

#1 Manipulasi Akuntansi

Manipulasi akuntansi merujuk pada cara-cara yang tidak memiliki dampak pada aliran kas atau faktor real. Manipulasi ini dilakukan, meminjam istilah Baruch Lev, only by the stroke of the pen. Hanya dengan goresan pena. Satu contoh dunia nyata adalah pada kasus WorldCom Corp. yang pada periode 2000 dan 2001 mencatat (mengakui) biaya sebesar $7 miliar sebagai pengeluaran modal (aset). “Kekeliruan” pencatatan ini menginflasi laba WorldCom Corp. dalam jumlah yang sama selama dua periode tersebut tanpa sedikitpun dampak pada dimensi real perusahaan (seperti aktivitas investasi, manufaktur, pemasaran).

#1a Within GAAP

Cara ini memanipulasi laba dengan menggunakan fleksibilitas yang diperbolehkan oleh GAAP. Manipulasi laba semacam ini dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok berikut:

Methods selection—memilih metoda alokasi depresiasi, aliran biaya pada sediaan. Cara ini tidak terlalu efektif untuk memanipulasi laba. Alasan pertama adalah manipulasi laba dengan pemilihan metoda dapat dideteksi oleh pemangku kepentingan mengingat perubahan metoda akuntansi harus diungkap dalam catatan laporan keuangan. Sementara alasan kedua adalah cara ini tidak dapat sering-sering digunakan karena pengubahan metoda yang terlalu sering tentu akan menimbulkan kecurigaan.

Altering judgment—mengubah estimasi seperti pada umur ekonomis dan nilai sisa pada aset jangka panjang, perkiraan piutang tak tertagih, asset impairments. Manipulasi laba semacam ini sangat sulit dideteksi oleh investor secara umum.

Structuring transactions—menstruktur kontrak sewa guna usaha (capital atau operating lease), investasi saham/ekuitas (dikonsolidasi atau tidak dikonsolidasi).

#1b Violates GAAP

Manipulasi laba semacam ini mencakupi pelanggaran secara nyata pada aturan umum yang berlaku  seperti mengakui transaksi fiktif, mempercepat pengakuan pendapatan (backdating).

#2 Manipulasi Faktor Real

Manipulasi laba melalui aktivitas real dilakukan melalui perubahan tingkat (level) atau juga timing atas aktivitas investasi atau operasi. Pada pertengahan tahun 2002, misalnya, Securities and Exchange Commission (SEC) melakukan penyelidikan atas Bristol-Myers Squibb. Penyelidikan dilakukan untuk menentukan apakah penawaran diskon luar biasa besar yang diberikan Bristol-Myers Squibb kepada pedagang besarnya (wholesalers) yang mengakibatkan “tambahan” pendapatan $1 miliar di tahun 2001 merupakan manipulasi laba.

#2a Nonmiopik

Cara nonmiopik adalah cara yang tidak banyak berpengaruh pada faktor jangka panjang perusahaan. Cara ini antara lain produksi berlebih (overproduction), menunda penjualan ke periode berikutnya (misal: Desember ke Januari).

#2b Miopik

Cara miopik adalah cara yang sangat mungkin berpengaruh pada faktor jangka panjang perusahaan. Misalnya menunda biaya R&D, pengiklanan, mempercepat penjualan melalui potongan harga besar-besaran (merusak merek). Penundaan biaya R&D, misalnya, dapat berakibat pada penundaan peluncuran produk baru. Hal ini dapat berakibat pada terlambatnya perusahaan memasuki pasar.


Tulisan ini sebelumnya saya masukkan ke The Acitya Report – Edisi Perdana.

Mengapa Akrual Total – Model Jones

Akrual total sekarang merupakan hal lumrah di literatur managemen laba. Hampir semua penelitian managemen laba menggunakan model berbasis akrual total. Namun, dulu nggak gitu lho.

Waktu Jennifer Jones menyusun papernya “Earnings Management During Import Relief Investigation”, yang kemudian terbit tahun 1991, akrual total justru nggak banyak digunakan. Pada saat itu, penelitian lebih banyak menggunakan perubahan metode akuntansi (e.g. LIFO ke FIFO) dan akrual singel (e.g. cadangan piutang tak tertagih) sebagai indikasi terjadi atau tidak terjadinya managemen laba.

Lantas mengapa Jones menggunakan akrual total?

Ini gara-gara niatan penelitian Jones. Dia ingin meneliti apakah perusahaan yang diuntungkan oleh pembatasan impor akan memanipulasi labanya.

Waktu itu, International Trade Commission (ITC) Amerika Serikat ingin cari tau apakah perlu membatasi impor ke negerinya. Kalau memang perlu, ITC bisa meningkatkan tarif atau menurunkan kuota impor sehingga nilai impor ke Amerika berkurang. Hal ini tentu menguntungkan produsen barang dalam negeri Amerika sebab pesaing mereka berkurang dan harga barang akan lebih menguntungkan (konsep permintaan dan penawaran). Tentu adalah wajar bila produsen dalam negeri menginginkan adanya pembatasan impor.

Bagaimana caranya?

Salah satu kriteria ITC untuk membatasi impor adalah profitabilitas industri. Bila laba industri jelek atau menurun karena impor maka ITC mungkin akan mempertimbangkan pembatasan impor. Di sini, perusahaan dalam industri tersebut tentu sedikit-banyak terdorong untuk menurunkan labanya atau lebih tepatnya mendeflasi laba mereka (mendeflasi: menurunkan laba secara semu) agar bisa memperoleh pembatasan impor.

Oleh sebab itu, Jones ingin melihat apakah perusahaan yang diuntungkan oleh adanya pembatasan impor melakukan pendeflasian laba.

Bila kamu manager salah satu perusahaan tersebut, cara mendeflasi laba apa yang mungkin kamu pakai? Berhubung ITC menggunakan angka laba sebelum pajak maka manager bisa memanfaatkan segala jenis akrual untuk mendeflasi laba mereka. Bisa menggunakan akrual gaji, cadangan piutang tak tertagih, bonus managemen, dan sebagainya. Semua bakal ada dampaknya ke laba.

Makanya, Jones menggunakan akrual total.

Caranya gimana? Kan kita nggak tau jelasnya akrual apa yang dimanipulasi untuk mendeflasi laba? Di sinilah asiknya model yang kemudian bakal terkenal dengan nama Model Jones ini…

Jones mengajak kita melihat pola akrual perusahaan-perusahaan tersebut.

Asumsinya, manager dan perusahaan kan nggak setiap saat juga memanipulasi laba. Soalnya managemen laba kan perlu usaha (effort) juga yah. Lagian kalau nggak ada untungnya trus buat apa? Oleh karenanya, kebanyakan laporan keuangan itu sebenarnya tidak dimanipulasi alias normal. Hanya dalam kondisi tertentu aja perusahaan melakukan managemen laba. Lagi pengen pembatasan impor misalnya. Logikanya, ini berakibat pada berubahnya pola akrual saat perusahaan terdorong untuk memanipulasi laba. Perubahan pola inilah yang hendak dilihat Jones. Bagaimana caranya?

Jones mengestimasi akrual normal, yang ia sebut nondiskresioner, dengan mengembangkan suatu model spesifik-perusahaan. Model ini mempertimbangkan terjadinya perubahan akrual akibat adanya perubahan kondisi perekonomian. Misalnya, bila perekonomian bagus maka penjualan cenderung naik dan, konsekuensinya, piutang penjualan akan cenderung naik juga. Itu kenapa kita melihat variabel pendapatan, piutang, dan aset tetap di dalamnya, sebab mereka juga mencerminkan perubahaan perekonomian. Model inilah yang kemudian kita kenal sebagai Model Jones.

Menarik ya ceritanya? Lanjutannya bisa kalian baca di paper Jennifer J. Jones (1991), “Earnings Management during Import Relief Investigation.”

Konsep, Konstruk, dan Proksi Managemen Laba

Iseng ngeliat-liat blog ini, ternyata saya sudah bikin beberapa pos terkait proksi managemen laba yaitu akrual diskresioner abnormal. Namun, pos-pos itu ngebahasnya banyakan dari sisi teknis, padahal pendekatan teori (top-down) mungkin justru lebih gampang dinalar. Nah, seperti apa pendekatan teori itu? Bener nggak lebih gampang dinalar? Yuk..

Oke, kita mulai dengan judul aja yah. Mengukur managemen laba. Ada 2 aspek di sini yaitu (i) mengukur dan (ii) managemen laba. Berhubung mengukur itu umum dan nyaris gak bermakna buat kita bahas kalau tanpa managemen laba maka kita bahas managemen laba duluan yah.

Managemen Laba

Apa sih managemen laba itu? Secara umum, managemen laba bisa kita artikan sebagai usaha/cara (effort) di luar bisnis normal yang diniatkan untuk mencapai kinerja akuntansi (i.e. laporan keuangan) tertentu.

Misalnya, menjelang akhir tahun ternyata target laba belum terpenuhi nih. Kemudian, si manager berusaha mengurangi biaya iklan bulan Desember biar laba nggak tambah kecil. Selain itu, dia juga menegosiasi para pelanggan agar mau memajukan pembelian mereka ke akhir tahun, biar pendapatan meningkat dan, harapannya, target laba terpenuhi.

Contoh itu termasuk managemen laba, tapi yang nggak melanggar aturan. Kalau yang melanggar aturan? Misalnya bikin jurnal penjualan fiktif Rp 50 juta.

Managemen Laba sebagai Sebuah Konsep

Apa sih konsep itu? Tunggu ya saya nyontek Cooper dan Schindler (2003) dulu. :p

A concept is a generally accepted collection of meanings or charateristics associated with certain events, objects, conditions, situations, and behaviors.

Secara gampang, walaupun tidak mesti benar, konsep menggambarkan makna yang cukup spesifik namun belum jelas benar. Ribet yah? Haha. (Nanti akan lebih jelas sih setelah masuk ke konstruk, yang melibatkan judul pos ini yaitu kegiatan “mengukur”. Sementara ini, tolong disabar-sabarin dulu dengan bingungnya. :D)

Ya misalnya kita bisa mengerti istilah managemen laba. Namun, ketika mendengar kata itu maka banyak managemen laba yang terbayang. Misalnya yang menginflasi (meningkatkan secara semu) atau yang mendeflasi laba, yang positif (tidak jauh berbeda dari nol) atau yang mulus/smooth (tidak jauh berbeda dengan laba tahun lalu), yang melanggar atau tidak melanggar GAAP, yang real atau yang akuntansi. Ini yang dimaksud oleh “a generally accepted collection of meanings or characteristics.”

Konsep merupakan hal yang penting dalam penelitian sebab ia merupakan dasar pemikiran dan pengembangan isu. Ya namanya penelitian kudu punya isu dong, kenapa diteliti dan kenapa asik buat dibahas, dan pada umumnya ini memanfaatkan konsep. Namun demikian, konsep ini baru sepertiga jalannya penelitian. Apa berikutnya?

Membangun Konstruk

Apa sih konstruk? Menurut Cooper dan Schindler (2003),

A construct is an image or idea specifically invented for a given research and/or theory-building purpose.

Jadi, dalam konteks pembicaraan kita, konstruk itu konsep detail khusus untuk riset tertentu.

Misalnya nih paper Jennifer Jones (1991) yang berjudul “Earnings Management during Import Relief Investigation”. Di situ, managemen laba berarti

  • deflasi laba (menurunkan angka laba secara semu),
  • terjadi selama investigasi pengaruh impor oleh ITC,
  • diproksi dengan akrual diskresioner abnormal yang diukur berdasar model akrual total, yang kemudian terkenal dengan nama Model Jones, dan
  • diuji secara cross-sectional pada perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam investigasi ITC tersebut.

Lengkap ya konstruknya? Ini merupakan salah satu ciri penelitian yang baik.

Mengukur Managemen Laba

Bagaimana kita bisa tahu ada-tidaknya managemen laba? Inilah inti dari mengukur managemen laba. Kalau cuma ngomong konsep, yang luas, dan nggak/kurang jelas ya bukan penelitian dong namanya. Kalau penelitian ya harus jelas, ada dugaan tentang konsep dan cara-cara detail dan terstruktur soal bagaimana membuktikan dugaan tersebut.

Kalau di Amerika, kita bisa lihat dari Accounting and Auditing Enforcement Releases (AAER) yang melaporkan salah saji laporan keuangan. Salah saji keuangan erat kaitannya dengan managemen laba, apalagi di zaman sekarang yang namanya kesalahan (error) itu mestinya jarang. Masalahnya ada sebagian managemen laba yang nggak tercakupi dalam laporan ini sebab bukan merupakan pelanggaran GAAP. Misalnya managemen laba dengan membatalkan biaya iklan akhir tahun biar laba nggak berkurang. Ya ini jelas nggak mungkin masuk salah saji. Alhasil kita pun perlu menebak-nebak sendiri.

Tentu menebaknya keren lah ya.. Pakai dasar logika dan pemikiran yang cukup valid. Ada beberapa cara mengukur managemen laba berdasar “tebakan” ini. Yang paling terkenal mungkin dengan memperkirakan nilai akrual diskresioner abnormal sebagai proksi (indikator) managemen laba.

Logika umumnya, kalau managemen ingin mengubah-ubah angka akuntansi maka mereka akan melakukannya via akrual (perbedaan antara kas dan laba). Untuk kepentingan ini, peneliti membagi akrual ke dalam 2 jenis yaitu akrual yang sulit diubah oleh managemen (nondiscretionary accrual) dan akrual yang bisa diubah dengan diskresi alias kebijakan managemen (discretionary accrual).

Apa akrual yang sulit diubah? Yang terikat jangka panjang seperti depresiasi gedung, yang bergantung pada kondisi ekonomi seperti (sebagian) akrual terkait penjualan nontunai, dan yang secara kebiasaan sulit diubah dalam waktu singkat seperti akrual gaji.

Lalu apa akrual yang bisa diubah dengan diskresi? Di paragraf di atas saya menuliskan “(sebagian) akrual terkait penjualan nontunai”. Mengapa sebagian? Sebab akrual ini juga bisa diubah dengan diskresi. Biaya utang tak tertagih, misalnya. Perkiraan atas piutang tak tertagih ini ditentukan oleh managemen dan sebab namanya saja perkiraan, managemen “bebas” menentukan jumlahnya. Dalam kondisi tidak ada managemen laba, jumlahnya akan mencerminkan kondisi perusahaan, industri, dan perekonomian secara umum. Namun, bila ada managemen laba, jumlahnya akan bercampur dengan keinginan managemen untuk mencapai angka laba tertentu. Secara konsep, akrual ini kemudian termasuk apa yang kita sebut akrual diskresioner abnormal.

Ada beberapa cara memperkirakan nilai akrual diskresioner abnormal. Yang paling terkenal dan sering digunakan mungkin Model Jones, baik yang asli maupun modifikasiannya. Yang menarik, prinsip dalam Model Jones ini kemudian digunakan juga untuk memperkirakan managemen laba real, yang dilakukan melalui aktivitas bisnis seperti pengurangan biaya iklan di akhir tahun.

Selain itu, juga ada mengukur fenomena managemen laba dengan melihat pola ala Dichev dan Burgstahler (1997). Ini salah satu contoh pola yang mereka temukan. Keliatan ya bahwa di sisi kanan angka .00 ada lonjakan frekuensi yang luar biasa? Ini yang saya sebut dengan melihat pola tadi. Namun, tentu saja, pengambilan simpulannya tidak dilakukan secara visual (yang notabene kurang bisa diandalkan) melainkan tetap dengan uji statistik.

Oke, segitu dulu cerita managemen laba kali ini. Apa cerita managemen laba yang sedang kalian minati? Kontak saya di email atau ke Facebook page Projek Acitya yah. Sampai jumpa lain kali.

Referensi:

Burgstahler dan Dichev. 1997. Earnings Management to Avoid Earnings Decreases and Losses. Journal of Accounting and Economics 24.

Cooper dan Schindler. 2003. Business Research Methods. McGraw-Hill.

Jones, Jennifer. 1991. Earnings Management during Import Relief Investigation. Journal of Accounting Research 29.