Koefisien Model Jones dan Sampel Managemen Laba

Daniel:

Saya mau nanya ni, koefisien a1, b1 dan b2 kalau di output spss nya dilihat di mana ya?
Trus kalau mau memilih perusahaan yang dijadikan estimator gimana? Kan kita belum tau perusahaan yang tidak melakukan manipulasi laba? Dan maksud “periode sebelum manipulasi laba” itu apa ya?

Koefisien a1, b1 dan b2 di output SPSS

Setelah anda run data di SPSS maka akan muncul tampilan berikut:

Koefisien persamaan bisa anda lihat di tabel “Coefficient”. Agar lebih mudah, gunakan nama variabel yang deskriptif pada data anda seperti 1/ASSETS, PPE/ASSETS, dan sebagainya. Ini membantu anda untuk cepat mengetahui nilai koefisien untuk suatu variabel.

Nah yang perlu anda perhatikan, ada 2 jenis koefisien yang berbeda di sana yaitu “Unstandardized Coefficients” dan “Standardized Coefficients”. Perbedaan keduanya terletak pada ada atau tidak adanya konstan. Untuk itu, anda perlu merujuk pada model empiris yang anda gunakan. Jika anda mengikuti model Jones (1991) maka ia tidak menggunakan konstan. Namun, beberapa model adaptasinya mungkin menggunakan konstan.

Estimat Koefisien

Pertama sekali, ada 2 cara yang umum untuk mengetahui ada-tidaknya manipulasi laba pada kelompok yang kita uji: (i) membandingkannya dengan nilai absolut (e.g. 0) atau (ii) membandingkannya dengan kelompok lain yang (semestinya) tidak memanipulasi laba. Cara mana yang harus digunakan bergantung pada rumusan masalah riset kita dan, kemudian, pada desain penelitiannya.

Konsepnya cukup mudah. Pada cara pertama, anda menggunakan data perusahaan itu sendiri sebagai estimator koefisien. Kemudian, dengan koefisien tersebut, anda memperoleh akrual diskresioner perusahaan. Sesudahnya, akrual diskresioner kelompok perusahaan diuji apakah berbeda signifikan secara statistis dari 0. Bila berbeda signifikan secara statistis dari 0 maka kelompok perusahaan tersebut melakukan manipulasi laba, vice versa. Contoh paper yang menggunakan konsep ini adalah Jones (1991).

Sementara itu, pada cara kedua, anda membandingkan 2 kelompok: suspect dan nonsuspect. Kelompok suspect berisi observasi (perusahaan, tahun) yang diduga memanipulasi laba, misalnya perusahaan A tahun 2005. Sementara kelompok nonsuspect berisi observasi yang tidak diduga memanipulasi laba. Pada cara ini, anda mengestimasi koefisien berdasar data kelompok nonsuspect. Alasannya, koefisien berlaku sebagai angka “rata-rata” kondisi normal, yaitu kondisi tanpa adanya manipulasi laba. Sesudahnya, anda membandingkan akrual diskresioner kelompok suspect dan nonsuspect. Ini bisa dicapai dengan berbagai cara, uji t, ANOVA, regresi dengan variabel dummy, dan sebagainya. Sekali lagi, pemilihannya sangat bergantung pada rumusan masalah dan desain penelitian anda.

Kelompok Suspect dan Nonsuspect

Dasar pemikiran utama kelompok suspect dan nonsuspect adalah bahwa orang tidak akan berbuat kejahatan tanpa ada alasan khusus (Lo 2007). Ini kemudian membuat para peneliti umumnya mencari apa ‘alasan khusus’ managemen memanipulasi laba. Alasannya bisa macam-macam seperti karena tidak ingin kelihatan rugi, ini kelihatan ada pertumbuhan laba, CEO berada di akhir masa jabatannya dan hendak memberi kesan yang bagus pada pasar tenaga kerja (headhunter), dan sebagainya.

Ketika anda menggunakan dasar pemikiran ini maka anda menggunakan (i) kelompok suspect yang dicurigai memanipulasi laba karena memiliki insentif, motif, atau dorongan tertentu dan (ii) kelompok nonsuspect, yaitu yang dianggap tidak memiliki dorongan memanipulasi laba. Anda kemudian membandingkan keduanya dan seharusnya, bila dorongan tersebut cukup kuat, anda menemukan perbedaan signifikan secara statistis dari akrual diskresioner kedua kelompok tersebut.

Pembagian kelompok suspect dan nonsuspect tidak dilakukan berdasar perusahaan, namun berdasar perusahaan-tahun alias observasi. Misalnya, perusahaan X diduga melakukan manipulasi laba tahun 2005, namun tidak sebelumnya. Ini berarti data perusahaan X tahun 2005 masuk ke kelompok suspect. Namun, data perusahaan X tahun 2003 dan 2004 masuk ke kelompok nonsuspect.

Periode Sebelum Manipulasi Laba

Perusahaan tidak selalu memanipulasi laba. Ini terkait dengan insentif, motif, atau dorongan yang dijelaskan di atas. Tidak setiap tahun perusahaan memiliki rugi kecil yang ingin ‘dihapusnya’ agar tampak untung. Tidak setiap tahun perusahaan ganti CEO sehingga CEO bersangkutan perlu memoles kinerja perusahaan agar menggambarkan dirinya secara lebih baik.

Katakanlah pada tahun 2005, perusahaan X diduga memanipulasi laba karena ia memiliki motif untuk menunjukkan peningkatan kinerja. Itu berarti, bila tidak ada pengecualian lain, sebelum tahun 2005 mungkin perusahaan tidak memanipulasi laba.


Komentar

70 tanggapan atas “Koefisien Model Jones dan Sampel Managemen Laba”

  1. Alfia Yuliyani Avatar
    Alfia Yuliyani

    Terima kasih Bu Arie. Postingan ibu sangat membantu dalam kemajuan skripsi saya.

    Izin bertanya Bu.
    Ibu pernah menjelaskan cara memperoleh koefisien model jones dan cara memperoleh akrual diskresioner pada sampel yang terdiri dari beragam industri, dalam postingan berikut.

    Memperoleh Koefisien Model Jones

    Pertanyaan saya, jika sampel yang digunakan hanya terdiri dari satu industri saja, apakah dapat menggunakan cara yang sama atau cukup mengikuti cara (i) pada postingan ini yaitu : (i) membandingkannya dengan nilai absolut (e.g. 0)

    Terima kasih

    Suka

    1. Kalau satu industri, prinsipnya juga sama saja sih. Soalnya yang multi-industri itu diregresinya juga per industri kok

      Suka

  2. izin bertanya bu Arie, untuk melakukan regresi guna memperoleh nilai koefisien itu apakah terdapat minimal sampel observasi? atau dapat dikatakan apakah terdapat minimal jumlah observasi untuk mengelompokkan perusahaan suspect dan non suspect? Terima kasih

    Suka

    1. Halo Alfia, kebetulan saya sudah lama nggak ngikutin ini jadi nggak tau update-nya ya.. tapi kalo nggak salah, dulu (mungkin di paper Roychowdhury) pakai minimal 15 observasi

      Suka

      1. Alfia Yuliyani Avatar
        Alfia Yuliyani

        Baik Ibu, terima kasih

        Suka

    2. Kalau nggak salah, sekitar 15 observasi.. tapi saya lupa artikelnya. Anda cari dulu ya artikel pendukungnya. Bisa aja saya keliru

      Suka

  3. Kak mau tanya, saya kan meneliti manajemen laba hanya 2 tahun, tapi pas saya coba regresi untuk mencari nilai a1 a2 a3 yang muncul di coefficient hanya nilai a3 saja, kalau seperti itu bagaimana ya kak?

    Suka

    1. Itu salah regresinya kayaknya Rizka. Coba dilengkapi datanya dan di-run lagi ya

      Suka

  4. handre Avatar
    handre

    halo ibu saya mau nanya, saya pakai rumus jones yang di modified oleh dechow dkk (1995) nah saya udah mendapatkan koefisien masing-masing nya.
    setangkep saya nilai Dat itu seharusnya sama seperti nilai residual yang ada di spss (saya pake yang unstandarized), tapi setelah saya coba hitung Dat-nilai residual hasilnya itu nilai konstan yang ada di unstandarized bu. itu benar atau salah ya bu? apakah nilai dat itu harus percis sama dengan nilai residual yang sudah di save di spss atau gimana bu?

    Mohon bimbingan nya bu, terimakasih sebelumnya.

    Suka

    1. Iya betul, seharusnya sama dengan nilai residualnya. Coba dicek lagi aja hitungannya apa sudah sesuai dengan konsep unstandardized atau residual yang kamu save itu yang mana

      Suka

  5. Sri Wahyuningsih Avatar
    Sri Wahyuningsih

    Selamat pagi kak. Terkait dengan konstanta dalam rumus manajemen laba, kondisi seperti apa yang membutuhkan adanya konstanta dan tidak perlu konstanta ?
    Kemudian apabila dalam rumus jones modified saya telah memasukkan 1/At-1, berarti koefisien yg saya pakai adalah yg unstandarized ?
    Terima kasih

    Suka

    1. Itu tergantung modelnya sih. Roychowdhury (2006) misalnya pakai konstan untuk memastikan rata-rata abnormal CFO (error term, discretionary accrual kalau di rumus lain) per tahun-industri itu 0

      Suka

Tinggalkan Balasan ke rizka Batalkan balasan